Senin, 01 November 2010

Upacara Hari Sumpah Pemuda Tahun 2010






bersama mahasiswa stkip paris barantai kotabaru semester 1

HARI SUMPAH PEMUDA 2010






Umpat Befoto lawan Gadis Bali ku hahahaha

DRAMA TEATER

SuaraSuara Mati
Karya Manuel Van Loggem


Para pelaku
Suami
Istri
Bujang
Sahabat




































DEKOR RUANGAN INI MERUPAKAN KAMAR YANG BERNUANSAKAN KEMURAMAN,DENGAN KURSI-KURSI YANG BERAT. RUANGAN INI RUANGAN BACA ‘BIBILIOTEK’ UNTUK AKSEN PRIBADI YANG LEBIH NYATA PADA TOKOH SUAMI. DAN LEBIH PENTING DAPAT MENGGUGAH KENANGAN MASA SILAM DIMANA SAHABAT SERING KALI MENGUNJUNGI TEMPAT ITU. PINTU CUMA SATU DIBAGIAN BELAKANG, SEBAB KELUAR MASUKNYA ORANG-ORANG DALAM DRAMA INI PENTING SEKALI. RUANGAN SANGAT TERATUR DAN PENUH SELERA.

ISTRI
Jadi keluar sendiri lagi kau pak?

SUAMI
Ya, manis! Dan seperti yang kau lihat, dapat juga. Yah, ingin aku sekali-sekali tak perlu dipapah orang lain kalau berjalan. Ingin sekali-sekali aku tinggal sendirian.

ISTRI
Tidakkah kau merasa sakit?

SUAMI
Bukan main! Sekarang pun masih terasa.

ISTRI
Baiklah. Aku tolong kau.

ISTRI MENUNTUN SUAMINYA. PERLAHAN MENUJU KURSI. SUAMI MELETAKKAN TONGKATNYA

SUAMI
Ambilkan surat-surat yang mesti aku kerjakan sekarang. Ingin aku selesaikan sekali.

ISTRI
Tidakkan lebih baik kau tangguhkan saja?

SUAMI
Tidak! Aku masih punya sisa semangat yang akku kumpulkan untuk berjalan-jalan tadi. Sekarang ingin kuhabiskan.

ISTRI
Banyak yang dikerjakan?

SUAMI
Hanya beberapa surat yang masih harus kutandatangani. Lainnya sudah kuselesaikan.
(Istri mengambil pulpen dari dalam saku baju suaminya dan memberikannya pada tangan kiri, kemudian dikeluarkan surat-surat dari dalam map)

ISTRI
Pak, mengapa tak kau kuasakan saja padaku, untuk menandatangani surat-surat itu. kau sakit dan lelah.

SUAMI
Kalau aku yang menuliskan sendiri namaku, bagaimana susah dan jeleknya, maka seolah-olah aku telah memindahkan sebagian dari diriku ke dunia lain. Jelas Nampak dihayalku sendiri, sama-sama rusak dan lumpuhnya. Tapi setidak-tidaknya di luar aku sendiri, Nampak olehku bahwa aku masih dapat menulis, sekalipun dengan tangan kiri. Sekalipun hanya dua kata berturut-turut, lebih tidak. (terdiam sejenak) mau kau membukakan pulpenku?


ISTRI MEMBUKA PULPEN. SUAMINYA MENANDATANGANI SURAT-SURAT DENGAN TANGAN KIRI. SETELAH ITU DIAMATI TULISANNYA DENGAN TERSENYUM


SUAMI(tersenyum)
Aku sendiri tak dapat membaca apa yang aku tulis.

ISTRI
Tak perlu! Kau hanya tandatangan

SUAMI
Tiap kali aku melihat namaku, aku melihat diriku sendiri

ISTRI
Nama tak lain dari suatu janji

SUAMI
Janji yang harus ditepati! (nyata gegetun dengan kekerasannya, kemudian menjadi lembut) maaf. Ini tentu merupakan siksaan yang beat bagimu, bahwa kau harus memelihara aku seperti anak kecil.

ISTRI
Anak kecil!? Pak, jangan katakan itu!

SUAMI
Ya, anak kecil memang harus dipelihara baik-baik. Tapi ini sungguh tidak adil, bahwa kau mendapat kebobrokan tua Bangka ini (seraya menunjuk dirinya) untuk kau pelihara

ISTRI (keras)
Tida! Tidak! Itu sudah kewajibanku!

SUAMI (Tersenyum mengejek campur iba)
Kewajiban!? Seperti kita sudah kawin lama saja. Padahal baru dua tahun. (diam sejenak) dulu aku sehat. Cuma agak terlampau matang barangkali, di samping keremajaan yang masih hijau. Tapi dulu aku mempunyai anggapan, bahwa orang membutuhkan dua umur perempuan untuk mengisi umur satu laki-laki. Kiranya bagiku tak sampai memerlukan perempuan keduan, sebab yang pertama saja sudah using jiwanya olehku.

ISTRI
Waktu kita kawin, aku tidak menganggap kau tua

SUAMI
Persis dua kali umurmu. Perkawinan kita ini sudah menjadi rumusan ilmu pasti dengan hasil salah. Du kali satu: nol

ISTRI
Kau pasti akan sembuh lagi pak, waktu kita kawin kau masih sehat.

SUAMI
Akan sembuh dan bertambah tua. Kita perlahan-lahan tumbuh saling mendekati akhirnya mencapai titik pertemuan kalau sudah tidak mempunyai arti lagi. Hari tua tak mengenal perbedaan umur lagi.

ISTRI (berdiri)
Ada orang mengetuk pintu


KETUKAN INI SEBENARNYA TIDAK ADA


SUAMI (melihat jam tangan)
Kau salah dengar. Ia tentunya belum datang. Biasanya ia selalu tepat pada waktu yang dijanjikan.

ISTRI
Tapi aku serasa mendengar sesuatu

SUAMI
Mendengar sesuatu? Seperti pekan lalu?

ISTRI (terkejut, gelisah)
Tidak! Tidak! Bukan itu! maksudku ketukan pintu!

SUAMI
Tak ada ketukan pintu. Badanku lumpuh tetapi pendengaranku masih baik.

ISTRI (gelisah)
Mungkin aku keliru, sangkaku bunyi pintu. Tapi aku salah dengar?

SUAMI
Orang yang mengalami sesuatu mungkin bisa keliru. Di dalam dan di luar manusia itu ada suara. Soalnya, apakah orang lain juga mengalamai hal yang sama?

ISTRI
Sudah! Sudah! Jangan mulai lagi!

SUAMI
Apa yang kau dengar?

ISTRI
Pintu. Tapi aku keliru! Sudahlah.

SUAMI
Aku hanya ingin menolongmu. Tapi untuk itu perlu berterus terang, yang disembunyikan akan menjadi busuk. Aku ingin menyembuhkan.

ISTRI
Aku tidak sakit pak…

SUAMI (perlahan, tetapi dengan tekanan)
Kau dengar lagi anak menangis?

ISTRI
Tidak! Tidak!

SUAMI
Jangan disembunyikan, aku ingin menolongmu. Waktu berjalan terus tanpa kata. Apa yang sudah lalu kau dengar sekarang. Kau ketinggalan sendiri di masa silam. Kau harus mengejar kami. Jangan tinggal di sana. Anak itu sudah mati, sudah lebih dari satu tahun.

ISTRI
Jangan usik soal itu lagi!

SUAMI
Kau sudah ketinggalan wakktu lebih dari satu tahun

ISTRI
Aku dengar tangis anak itu. aku bersumpah! aku dengar!

SUAMI
Yang baru-baru ini kau pungkiri juga. Setelah lama barulah kau mengaku. Itu bagus sekali. Tandanya kau sadar akan kesendirianmu. Sendirian dalam waktu, dengan kenangan sebagai dunia sekitarmu. Kau harus lekas-lekas kembali, sebab kami terus maju. Jarak waktu antara kau dan kami semakin jauh.

ISTRI (kehabisan tenaga)
Sudahlah! Sudah! Aku tidak mendengar


SUNYI BEBERAPA SAAT, SUAMI BERDIRI DAN BERJALAN DENGAN SUSAH PAYAH MENDEKATI POTRET KECIL, POTRET SEORANG ANAK BAYI, YANG BERADA DI ATAS LEMARI BUKU


SUAMI
Untunglah aku sudah membuat potret ini. Sekarang aku tak dapat membuatnya lagi. Tanganku tak kuasa lagi memegang alatnya. Tapi potret ini kubuat, dulu ketika anak ini baru lahir, belum dapat dikenali wajahnya, belum dapat dikenal mirip siapa wajahnya. Saying tak lama kemudian meninggal. (Tiba-tiba berpaling pada istrinya dengan pandangan tajam) ingatanku mulai tumpul. Bukankah kata dokter, anak itu mati lemas karena mukanya telangkup ke bantal?
ISTRI
Aku harap jangan bicarakan itu lagi!

SUAMI
Begitu kata dokter, bukan!?

ISTRI
Ya!

SUAMI
Tak seorang pun dapat berbuat apa-apa. Tak seorang pun bersalah!

ISTRI (Tak bernada)
Tak seorang pun!


SUAMI KEMBALI MENEKUNI POTRET SERAYA TERMENUNG


SUAMI
Dengan membuat potret ini, seolah-olah aku telah merampas hidupnya. Aku bangga sekali dengan anak ini. Masih ingat kau? (istri diam membuang muka) bangga bercampur takjub. Bangga karena kenyataan sekalipun keadaanku begini, masih dapat punya anak. Boleh dikata suatu keajaiban. Kelahiran dari cipta. Seperti dalam dunia wayang saja. Indrajid lahir karena kekuatan cipta.
(Pintu diketuk orang, istri terkejut. Suami melihat jam tangannya) pintu diketuk orang?

ISTRI
Aku tak dengar!

SUAMI
Itu salah! Mestinya kau dengar apa-apa. Tapi pintu diketuk orang. Ia datang terlalu pagi, tapi tak mengapa. Kita boleh bergembira, bahwa satu-satunya sahabat kita masih tinggal mengukur waktunya dengan hasrat dan bukan dengan jamnya. Suruh dia masuk. Tentu kau senang melihat dia kembali (Istri berdiri lurus saja tak bergerak)

ISTRI
Aku…. tidak senang!

SUAMI (tajam)
Masukan dia!


ISTRI PERGI, SUAMI KEMBALIKAN POTRET, TETAPI LANTAS DIKEMBALIKAN PADA TEMPAT SEMULA. LALU ISTRI DAN SAHABAT MASUK. SUAMI MENYAMBUT DENGAN SUSAH PAYAH DENGAN ULURAN TANGAN KIRINYA, KEMUDIAN KEMBALI DUDUK KE KURSINYA



SAHABAT
Bagaimana dengan keadaan badanmu?

SUAMI
Semakin buruk, kepala tinggal menunggu apa yang dilakukan oleh badan. Pikiranku masih terang, itulah yang malah membuat aku susah. Serasa badanku dibelit ular sampai remuk, tapi kepalaku taka pa-apa, hingga aku dapat menyangsikan semua dengan terang.

SAHABAT
Apa kata dokter?

SUAMI
Dokter, aku sudah tidak pakai lagi. Sudah sering ebrganti, tetapi mereka tak dapat menyembuhkan. Kata mereka, penyakitku ini akan hilang dengan sendirinya. Sekarang aku tak mau melihat mereka lagi. Dengan begitu mereka pun tak akan dapat memberikan aku harapan-harapan palsu lagi. Sekarang aku bersikap tak peduli (sahabat berpaling pada istri)

SAHABAT (dengan lembut)
Dan kau, apa kabarmu?

ISTRI
Baik! Cuma kepalaku agak pening!

SUAMI (kepada Sahabat)
Aku ingin bicara dengan kau tentang dia. Barangkali kau dapat member pertimbangan. Saying akhir-akhir ini kau jarang sekali datang.


SAHABAT MENJAWAB SUAMI, TAPI DENGAN MEMANDANG ISTRI


SAHABAT
Akhir-akhir ini aku mendapat kesan, bahwa kedatanganku tak begitu dapat sambutan seperti dulu-dulu

Istri memandang jurusan lain

SUAMI
Itu Cuma perasaanmu saja. Tapi aku yakin, pasti bukan aku yang menimbulkan kesan itu, aku senang kalau kau datang (Diam sejenak) Aku tahu, bahwa antara kita ada terjalin satu ikatan, ikatan yang melebihi persahabatan semata.

SAHABAT
Begitu memang!

ISTRI (terkejut)
Tidak!

SAHABAT
Bukankah sudah waktunya sekarang berterus terang?

SUAMI
Selamanya memang lebih terang, kalau berterus terang.

SAHABAT
Nah, mulailah! Mengapa kau telepon aku suruh datang kemari? Mengapa kau minta aku datang tepat pada waktu yang kau tentukan?

ISTRI
Dia menelpon? (kepada suami) aku tak tahu pak, mengapa ta kau atakan padaku. Katamu dia akan datang seperti dulu-dulu. Tapi kau tidak minta dia datangkan!?

SUAMI
Aku ingin pulih kembali persahabatn kita dulu. Kita dulu mengalami bersama saat-saat yang menyenangkan, kita bertiga dekat sehabis perkawinan kita. Persahabatan yang jarang terjadi, sudah merupakan tri tunggal (kepada sahabat) dan ketika kau tak datang-datang lagi, entah apa sebabnya aku tak tahu, maka di rumah ini lalu menjadi sepi. Dapat kau pahami, bukan? Seorang yang lumpuh, seorang istri cantik yang muda ini, membawa kekakuan, membawa kesepian. Dan dalam kesepian lantas tumbuh suara-suara aneh yang mengacauan alam pikiran. Sebab itu uminta kau datang, sahabat. Kau sebagai satu-satunya suara hidup untuk melawan suara-suara mati dalam kesepian kami.

SAHABAT
Apa maksudmu? Suara-suara mati? Aku menjadi curiga padamu!

SUAMI
Orang cacat selamanya dicurigai. Ya, mereka adalah musuh-musuh yang dijelmakan dari perasaan takut orang-orang waras.

SAHABAT (mengancam)
Apa suara-suara mati itu?

Sunyi seketika, suami memasang telinga, suara pintu diketuk orang

ISTRI (memekik)
Tidak! Aku tidak mendengar apa-apa!

SUAMI
Ssttt! Pintu diketuk orang?

ISTRI
Aku tak dengar apa-apa!

SUAMI (melihat jam)
Pengantar pos. datangnya mesti tepat waktu begini. Tadi kuminta bujang segera membawa surat-suratnya kemari.



BUJANG MASUK DENGAN MEMBAWA SURAT-SURAT YANG DIULURKAN KEPADA ISTRI


BUJANG
Ada surat buat nyonya!

ISTRI TAK BERGERAK. BUJANG MASIH BERDIRI DENGAN TANGAN TERJULUR

SUAMI
Itu… ada surat untukmu!


ISTRI MENDEKATI BUJANG, PERLAHAN-LAHAN SEPERTI DALAM MIMPI DAN DENGAN ACUH TAK ACUH MENGAMBIL SURAT. BUJANG LANTAS KELUAR LAGI. ISTRI TINGGAL BERDIRI SAJA. TANGANNYA LURUS KE BAWAH. SURAT ITU DIPEGANGNYA TANPA DIBACA


SUAMI
Mengapa kau berdiri saja?

SAHABAT
Ada apa? Dari siapa surat itu?
ISTRI (tak bernada)
Dari kau!

SAHABAT (tersentak)
Apa maksudmu?

ISTRI (masih tak bernada)
Setahun lamanya kau tulis surat padaku. Aku tak berani membicarakan soal itu dengan kau. Cuma aku memberikan isyarat agar kau dapat merasa. Itulah sebabnya kau merasa di sini tak lagi dapat sambutan baik seperti dulu-dulu. Kini sudah waktunya berterus terang seperti katamu tadi. Baiklah aku senang sekarang, tak perlu lagi harus bersembunyi. Cuma aku tak mengerti, mengapa kau siksa aku dengan surat-surat itu.

SAHABAT (pada suami)
Apa artinya semua ini?

SUAMI
Suara-suara mati! Ia mendengar suara-suara itu. dan kini ia melihat isyarat-isyarat mati.

ISTRI (seraya memerlihatkan surat)
Tapi toh surat ini ada padaku. Aku kenal tulisan ini seperti aku kenal tulisanku sendiri. setahun lamanya aku menerima surat-surat dengan tulisan ini. Mula-mula sesaat setelah matinya anak itu.

SAHABAT
Tapi mengapa kau sangka aku yang menulis?

ISTRI
Sebab hanya kau yang tahu apa yang tertulis di dalamnya!


SAHABAT MEREBUT SURAT DARI TANGAN ISTRI


SAHABAT
Berikan surat itu (melihat suami) aku tidak menulis surat itu!

ISTRI
Namamu memang tidak kau tuliskan, tapi Cuma kau yang tahu apa isinya

SAHABAT
Aku berani bersumpah bukan aku yang menulis surat ini!

ISTRI
Surat-surat yang lain pun tak pernah kau tanda tangani

SAHABAT
Aku tak pernah menyurati kau! Aku tak akan berani! Aku takut… ya, aku takut akan membuka rahasia sendiri kalau aku menulis surat betapapun aku sudah berhati-hati.

ISTRI
Dalam hati akupun bertanya-tanya, mengapa begitu sampai hati kau melakukannya. Semula aku menangis karenanya, karena kekejamanmu. Tapi kemudian ketika aku mulai berpikir, bahwa aku mungkin benar maa mengertilah aku, bahwa kau harus membenciku.

SAHABAT (memegang bahu Istri)
Apa yang kau katakan itu? demi Allah, katakan apa yang telah terjadi!

ISTRI MELEPASKAN DIRI DARI PEGANGAN SAHABAT LALU PERLAHAN MENUJU KE DEPAN SERAYA MENGUCAPKAN YANG BERIKUT, SEPERTI BICARA PADA DIRI SENDIRI

ISTRI
Mula-mula ada perlawanan, perlawanan karena tak percaya, karena keyakinan dalam dirimu. Kau mulai tahu bahwa tuduhan-tuduhan itu bohong oleh kepastian pengalaman. Tapi apa yang terjadi sebenarnya, tak dapat diikuti lagi. Kebenaran itu terletak di masa silam dalam dirimu Cuma kenangan padanya. Lalu kenangan itu perlahan disinggung. Lama kelamaan kau terlepas dari masa silam, sampai pada saat kenangan itu membentuk kehidupannya sendiri. dan runtuhlah kepercayaan pada apa yang kau ketahui. Mula-mula kau lawan kesadaran ini. Tapi sudah tidak ada lagi sisa-sisa kepastian yang tinggal. Dan kekuatan dalam dirimu pun menjadi liar

SERAYA MENATAP DENGAN PANDANGAN REDUP KE SEKITAR. SEAKAN-AKAN HENDAK MENGUJI KEJADIAN-KEJADIAN DI MASA SILAM PADA BENDA-BENDA DI DALAM KAMAR

Benda-benda di sekitarmu mulai kehilangan kemesraannya, soal yang paling remeh menjadi saing dan memuakkan dan mendorong kau menjauhinya. Meja dan ursi dalam kamar, pohon-pohon di jalan, mega-mega dilangit. Semuanya menarik diri darimu, mereka jadi samar-samar mengandung rahasia. Itulah yang member kesepian yang tak tertangguhkan lagi. Dan bayang-bayang yang timbul dalam dirimu penuh dengan dendam dan benci.

PADA KALIMAT BERIKUTNYA, SEBENTAR ISTRI MELIHAT PADA SAHABAT YANG MEMERHATIKAN DIA DENGAN PENUH RAWAN DAN KASIH. SUAMI MENGIKUTI PANDANGAN MEREKA ITU. PADA MUKANYA TERBACA PERASAAN SAKIT HATI, PUTUS ASA DAN DENDAM YANG BERKOBAR-KOBAR KARENA KESEPIAN YANG DILONTARKAN OLEH ISTRINYA

Yang menjadi teka-teki bagiku ialah, mengapa manusia itu mesti menjadi musuh dirinya sendiri? mengapa dalam satu tubuh bersarang harapan damai bersama dengan kekuatan yang membawa kebinasaan. Dan lambat laun kau tenggelam dalam kesangsian, dalam ketakutan…dalam ketakutan, dalam kesamaran dan keasingan!!
Kadang-kadang, serasa ada dinding yang membelah badanku menjadi dua, disisi kanan aku dapat berpikir, mengetahui, melihat keadaanku, mengikuti masa silam dengan keyakinan yang pasti. Tetapi di sisi kiri segala tumbuh dalam diriku, kecemasan, baying-bayang yang serba samar. Sedang akalku tak kuasa menembus dinding itu.
(seolah-olah sudah kehabisan napas)
Kadang-kadang, serasa akal memukul-mukul seperti hendak melepaskan diri, tetapi dindingnya terlalu kuat. Aku tahu aku hidup dalam kebohongan, tapi kebohongan itu sangat kuat menguasaiku. Ada sebuah dinding yang membatasi antara aku dan suara anak itu menangis. Aku tidak dapat meneliti dari sisi dinding sebelah mana datangnya suara itu.

SAHABAT
Kau mendengar anak menangis?

ISTRI
Ya. Tangis anakku, anakku yang telah mati (seraya menunjuk suaminya) dia, dialah yang memeringatkan aku terhadap suara itu. dialah yang mula-mula mendengar tangis itu, kemudian disampaikan kepadaku (Diam sejenak) kemudian datanglah kesangsian itu, kemudian suara itu.

SESAAT SEPI MENCEKAM

SUAMI
Kasihan (pada sahabat) tidak benar! Tidak benar, bahwa aku yang mulai mendengar suara itu. itu hanya angan-angan saja. Tak dapat disesali dia.

ISTRI
Bersamaan waktunya dengan itu datanglah surat-surat itu, surat-surat yang berisi tuduhan. Surat dari satu-satunya orang yang sebenarnya dapat menolong aku. Surat dari kau! Oh, alangah kejamnya. Kejam! Bahwa datangnya dari kau. Bahwa kau menuduhku!

SAHABAT
Apa yang telah kutuduhkan padamu?


ISTRI
Bahwa aku telah membunuh anakku (sunyi senyap)

SAHABAT
Itu tidak benar!

ISTRI
Di sisi kanan kebenaran, di sisi kiri dosa dan di tengah-tengah dinding. Tiap-tiap manusia selalu ada perasaan dosa yang masih samar-samar, masih mencari dasar. Kaulah yang member dasar itu dengan surat-suratmu!

SAHABAT (seraya menunjuk surat)
Jadi kau anggap aku yang menulis surat itu?

ISTRI
Ya!

SAHABAT
Boleh aku membacanya?

ISTRI
Boleh, nanti kau akan melihat dirimu sendiri seperti di dalam cermin.


SAHABAT MEROBEK SAMPUL SURAT, SURAT DIKELUARKAN LALU DIBACA


SUAMI
Apa isinya? (sahabat lama memerhatikan suami dengan pandangan curiga)

SAHABAT (geram)
Kau pembunuh!

SUAMI (menyindir tajam)
Aku? Aneh sekali! Boleh aku melihat?


SAHABAT MELEMPARKAN SURAT KEPADA SUAMI. SUAMI DENGAN SUSAH PAYAH MEMUNGUTNYA DI LANTAI


SUAMI
Kau salah baca. Sudah kusangka. Di sini tertulis “Ibu pembunuh”

ISTRI
Aku? Oh, lain tidak?

SUAMI
Tidak

SAHABAT (kepada Istri)
Mesti ada yang mengetahui tentang anak kita. Ya, aku tak mau membisu lebih lama lagi. Kau tahu, bahwa aku cinta padamu. Jadi tak mungkin aku yang menulis surat-surat itu. surat ini pun tidak! Aku tak berubah. Aku tak menulis surat-surat itu, percayalah! Percayalah!

ISTRI
Aku mau percaya padamu. Aku pun tak inginkan bukti apa yang kau katakan sudah cukup. Hanya karena kau yang mengatakan. Kalaupun aku melihat sendiri kau yang menulis aku pun akan percaya juga. Sebab aku mau percaya dinding dalam diriku yang membatasi antara bukti dan harapanku.

SAHABAT
Aku berhak atas dirimu. Aku tak sudi lama lagi dipaksa melepaskan kau karena belas kasihan.

SUAMI
Jangan hiraukan aku!

SAHABAT (kepada Istri)
Lingkungan ini tak baik bagimu, kau harus pergi dari sini. Kubawa kau dari sini, hawa sekitar sini sudah busuk, cahaya di sini sudah beracun. Kau tak bebas bernapas. Ikutilah aku.


SAHABAT MEMEGANG LENGAN ISTRI. ISTRI TIDAK MELAWAN


SUAMI
Tidakkah kau minta diri dulu dariku?


SAHABAT PUN MENDEKATI SUAMI TANPA MELEPASKAN LENGAN ISTRI. SUAMI BANGKIT DARI URSINYA DENGAN SUSAH PAYAH DAN BERDIRI DI HADAPAN MEREA. KETIGA ORANG ITU SEKARANG BERDIRI DEKAT POTRET BAYI DI ATAS LEMARI BUKU


SUAMI
Aku harus tinggal di sini. Aku ta dapat meninggalkan dia. Aku tahu betapa berat penanggunganmu. Seorang yang tak patut mendapat kasih. Seorang pincang dan lumpuh seperti aku ta sepatutnya berkumpul dengan orang yang hidupnya tanpa cacat, sebab ia Cuma menghalangi kebahagiaan orang lain saja, sering aku berpikir apakah tidak lebih baik kalau aku memutuskan untuk melepaskan kau dariku. Syukurlah kini sudah ada orang ketiga yang mau melakukannya. Pergilah kau bersama dia. Malapetaka yang kusebar, kini sudah seperti penyakit, semakinlama semakin payah, tidak menjadi berkurang. Dan hidup yang kutempuh sekarang ini sudah tidak memberikan bahagia. Aku hanya dapat menebusnya dengan kematianku.

SAHABAT (dengki)
Sayang!

ISTRI
Untung tak ada lagi anak yang akan mengikat kau! Barangkali di luar rumah ini kau pun tak akan mendengar tangisnya lagi!


ISTRI MELEPASKAN DIRI DARI PEGANGAN SAHABAT


ISTRI
Aku berterima kasih padamu bahwa selama ini kau telah banyak berkorban untukku. Tapi aku mohon jangan coba kau bujuk aku. Aku tahu lebih pasti bahwa aku mesti tinggal padanya daripada hasratku ikut bersamamu.


SAHABAT MELANGKAH MAJU KEPADA SUAMI DENGAN MENGANCAM


SAHABAT
Aku dapat menghajar kau jahanam! Kau jerat dia di sini! Kau bunuh dia!

SUAMI (tersenyum)
Aku Cuma seorang yang malang, yang lumpuh. Ku maafkan kau!


SUAMI LUPA DISEBABKAN KARENA KEMENANGANNYA. SUAMI MENGULURKAN TANGAN KANANNYA. SAHABAT TAK MENYAMBUT ULURAN TANGAN ITU, IA MEMBELAKANGI. TERPIKIR SEJENAK, TIBA-TIBA CEPAT IA MEMBALIKAN BADANNYA KEMBALI


SAHABAT
Jarimu kena tinta!


SUAMI CEPAT MENARIK TANGANNYA, ISTRINYA MELIHAT TANGANNYA SENDIRI, KEMUDIAN MENGHAMPIRI SUAMINYA, MEMEGANG TANGANNYA


ISTRI
Tinta? Aneh sekali! Coba lihat!

SUAMI (berteriak karena rahasianya terbuka)
Pergilah bersama dia! Tinggalkan aku sendiri!

SUAMI CEPAT MENARIK TANGANNYA DAN JATUH. DALAM USAHANYA MENCARI PEGANGAN PADA LEMARI BUKU. TANGANNYA MENYINGGUNG POTRET BAYI HINGGA JATUH PULA KE BAWAH. HENDAK DITANGKAPNYA POTRET ITU, TAPI SIA-SIA DAN POTRET ITU BERANTAKAN DI LANTAI. DALAM PADA SAAT ITU, ISTRINYA MENJERIT

ISTRI
Ia…. Ia bergerak!


SAHABAT PERLAHAN-LAHAN MENDEKATI SUAMI DENGAN SIKAP MENGANCAM


SAHABAT
Tanganmu dapat bergerak. Tangan kananmu kena tinta! Kau apakan dia!
(seraya menunjuk istri) kau apakan anaknya!?


SUAMI BERDIRI TEGAK DENGAN MUDAHNYA. IA TAK LAGI LUMPUH. KAKINYA MENYAMBAR POTRET. TANGANNYA MENUDING ISTRINYA


SUAMI (penuh kebencian dan sombong atas kemenangan)
biar dirasakan siksaanku sebelum yang kalian terima di neraka!

SAHABAT (Seraya menarik bahu istrinya)
Mari! Ikutlah denganku! Biar dia menghukum perbuatannya sendiri.

ISTRI
Tunggu dulu (melepaskan bahunya) diam! Diamlah!


KEDUA LAKI-LAKI SALING BERPANDANGAN PENUH KEHERANAN


ISTRI
Oh, tak dengarkah kau? Tak dengarkah? Anakku menangis! Anakku menangis! Anakku menangis!


LAMPU DIPADAMKAN LAMBAT LAUN. PADA SAAT KESEPIAN MENYUSUL


TAMAT

Minggu, 31 Oktober 2010

KUMPULAN CERPEN ANAK STKIP 2010 SEMESTER 1


"Bukan Cinta Luar Biasa"
By : Kris Sulistina


"Laki-laki itu memang susah ditebak ? " ulas Gusti dengan muka arif dan bijaksana.
"Hah?" Aku setengah tidak mendengar.
"Hah lagi ! Enak lah jadi orang tuli ! " balas Gusti.
"Ha ha ha..... !!!" kami pun tertawa bersama.

Setahuku laki-laki dan perempuan itu berasal dari dua planet yang berbeda dan harus saling mengerti satu sama lainnya, namun kenyataannya berbeda.

Aku kuliah di STKIP Kotabaru dan aku mempunyai pacar yang sangaaaaat... baik sekali sama aku. Dia adalah Kakak tingkat semester di kampusku yang satu jurusan sama aku dan juga kemaren dia Panitia Momab (Ospek) saat aku masih menjadi calon mahasiswa baru.
Dia sangat hebat dalam olahraga bola voli. Rambutnya cepak (SKI 1), bibirnya tipis, badanya kurus dan sedikit item, kelihatanya memang sih kaya hasil dari inseminasi buatan Tuyul Jimbabwe  namun dia baik dan perhatian sama aku.
Agar lebih akrab kita sebut saja namanya Aji (disamarkan red). Saat melihat Aji maen voli aku sering berpikir bagaimana kalau si Aji saat bertanding voli dan menyeMesh musuh berharap saat itu juga rambutnya yang tajam juga meluncur dan menusuk musuh dan meracuninya (buset, ni rambut atau jarum sumpit sih? )
Oh ya.. saat mempassing bola itu ke Touser kemudian Aji berlari mendekati net sambil mengepak-ngepakkan tangannya ke udara, entah maksudnya mencoba untuk terbang agar bisa menyeMesh ato membuat musuh pingsan dengan bau keteknya. Akhirnya bola meluncur diSmashnya Aji ke lapangan musuh dan Goooaaal...!!
******

Setelah sekian lama kami pacaran, akhirnya aku menemukan suatu celah yang lama sudah ada yang membuatku penasaran. Dan celah itu digunakan oleh Aji untuk balikan sama mantan pacarnya atau CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali Bukannya Cinta Loe Bakal Kandas  ). Aji balikan sama si Ita (disamarkan lagi deng.) dan sejak ku tahu itu aku putuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah jelas tak bisa di pertahankan walau ku masih sayang . Ini semua yang terakhir kalinya dari perjalanan cintaku yang sudah tiga kali putus-nyambung terus. Ya.. sudah lah ku tak sanggup lagi.

Bulan berganti akhirnya ku menemukan tambatan hati yang kedua yang lebih mengerti aku yang ingin dicintai bukanya di curangi.... dia adalah kakak panitia Momab juga cuma beda jurusan dia dari jurusan Olahraga.
Dan dia pernah berkata, " De' kaka akan selalu menyanyangi ade dan takkan pernah menduakan ade!"
Aku senang mendengarnya sampai-sampai aku tak ingat apakah bau badanku udah kaya tesi… hehe . Aku memanggilnya Imut, karena dia laki-laki paling imut se-Republik Kampus ini (jelas aje.. namanya juga si Imut), orangnya tinggi, berambut tipis dicukur pendek dan berkulit hitam manizzz kaya gula tapi gak pake semut yah.. hehe...
Kalau dia tersenyum imuuuut banget apalagi di tambah ada lesung pipit di kedua belah pipinya yang memperjelas bahwa dia Mahluk Tuhan Yang Paling Imut, kalau cemberut tetap imut. Beda banget sama si Aji yang meskipun dia ketawa sekalipun, tetap aja Alay (Anak Layangan) .. Lebay...

Entah beberapa minggu kemudian saat aku di lampu merah aku memergoki si imut sedang memboncengi cewe bukan cowo karena bukan homo... ya dia kelihatan mesra banget sambil merangkul tangannya ke pinggang... duh sakit hati ku dibuatnya... langsung saja tanpa pikir panjang walau badan ku gak panjang ku sms dia, "Beh... Bagus Banar lah...Berdua di lampu merah erat banar pelukannya cewenya di belakang..!!"
"Engak Say Ae.. tu Teman za.." balas si Imut.
"Teman Apa ? itu mah bukan teman… Kalaunya seperti itu kita lebih baik putus z dah tidak usah berhubungan lagi." Aku marah besar kala itu.

Setelah tragedi patah hati itu berlalu, aku pun curhat sama sahabatku, " kenapa ya..perjalanan cintaku selalu dikhianati oleh orang yang ku sayangi… apa gak ada lagi cinta yang serius apa cuma sekedar cinta monyet nyangkut ke kampus?"

"ha ha ha… Benar juga yah.. cinta Sekarang banyak yang Cuma cinta-cintaan yang tidak serius cuma main-main, padahal kitanya pengen serius!" samber Gusti sok Bijak.
" Ya begitulah Gus..!!"
Ternyata benar juga kata Gusti cinta Sekarang cuma Kamuflase saja. Lihat saja di sinetron sekarang rata-rata judulnya tentang cinta, "Cinta Suci" ada juga " Cinta Pertama" tapi tak pernah ada yang judulnya "Cinta Monyet yang Monyet adalah Cintaku".
Gusti memberitahuku, " Tau Gak Kris?"
"Apa?" tanya ku.
"Laki-laki itu Cuma ada dua tipe di dunia ini." Ujar Gusti sok tahu.
"Dua tipe ?", akupun jadi penasaran.
"Yuppy... gini, laki-laki itu kalaunya kada Bajingan ... ya Homo...", ujar Gusti.
(Buat Homo-homo yang sedang baca cerpen ini aku tahu kalian lagi teriak dalam hati ' Yes... aku bukan Bajingan"  )

Akhirnya ku bertekad bahwa untuk sekarang ini mau fokus (bukanya percetakan Fokus di Pal 1 dan di Bakti) maksudnya mau konsentrasi sama kuliah dan tidak mau pacaran dulu..! (bukannya takut sama bajing dan homo loh.. ini benar-benar tekad loh).

Semua sudah berubah, bergerak maju dengan kecepatan yang tidak bisa aku prediksi sebelumnya.

Tapi kenapa, hingga saat ini, setelah tiga bulan ini rasa cinta itu masih ada.







"Seuntai Kalung"\

By : Syaiful Akhyar

Semenjak lulus Kuliah D II tahun 2006 silam aku menyandang gelar sebagai A. Ma. Pd ( dibaca Ahli Muda Pendidikan. red). Namun yang membuat aku sedih, aku tidak mengajar di sebuah sekolah di mana di sana dipenuhi oleh anak-anak murid yang lucu-lucu dan pintar-pintar. Karena beban sekolahan yang aku datangi sudah penuh oleh tenaga pengajar, daripada tuntutan ekonomi akupun mencoba untuk melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan kelapa sawit yang ada di daerah aku. Ternyata…. Alhamdulillah aku diterima bekerja sebagai seorang karyawan.

Entah setelah beberapa waktu saat beberapa teman yang kebetulan berprofesi sebagai guru mengajak aku untuk bersama-sama mendaftar di STKIP Kotabaru karena informasi yang aku terima sekarang ini seorang guru dituntut harus S1. dengan tabungan apa adanya aku berniat untuk mengikuti perkuliahan tersebut untuk bekal aku setelah tidak bekerja lagi sebagai seorang karyawan kepala pesawat eh salah kelapa sawit maksudnya .

"Ma... bagaimana jika bapak mendaftar kuliah di STKIP untuk melanjutkan ke S1, pintaku.

" Hah...? Apa....!!! Bapak udah yakin Nih.. mau kuliah lagi!!!" Jawab istriku tersayang yang sambil menyalakan Baygon (tau kan Obat Nyamuk).

"Bapak mau mencoba dulu ma... itu pun kalo mama setuju.!! Pintaku lagi.

"Bapak ini... buat masa depan jangan coba-coba dong harus pasti... tapi, bagaimana dengan pekerjaan Bapak..? apa tidak jadi masalah kedepannya nanti" jawab istriku sambil menundukan kepalanya.

Ternyata Istriku tercinta ini memikirkan nasib keluarga kami yang aku cuma sekedar seorang karyawan swasta biasa dengan gaji pas-pasan untuk kehidupan sehari-hari, apalagi untuk kuliah apakah kami bisa bertahan.

"Ya... Mau Bagaimana lagi mah.. kalau Bapak terus bekerja di perusahaan ini tanpa ada yang lain sepertinya masa depan Bapak tidak bisa berkembang apalagi maju ya ibarat kata orang kehidupan Bapak ini seperti lari di tempat saja. Tidak maju… tidak mundur…. Maka dengan ini Insya Allah Bapak bisa mengatur waktu untuk kuliah dan bekerja.

Istriku Cuma diam saja mendengarnya. Seperti orang yang ragu-ragu.

"Ma'... Apa mama tidak mau mempunyai suami nantinya seorang guru dan menjadi pegawai Negeri dengan penghasilan yang cukup lumayan, mama juga akan terlihat lebih cantik!" Rayuku seperti masa-masa pacaran dulu yang sambil memegang tangan dan menciumnya , supaya bisa meluluhkan hatinya itu.

"Yah... kalaunya Bapak pengenya begitu, dan ingat..!! Bapak harus bisa mengatur waktu juga ya untuk bekerja dan kuliah serta untuk keluarga jangan lupa ya...Mama sayang deh sama Bapak  apalagi sekarang guru dituntut harus S1.

Setelah itu aku pun menyiapkan persyaratan-persyaratan untuk pendaftaran bersama dua teman sejawatku yang kebetulan sudah menjadi guru.

"Ful.. kamu udah siapkan persyaratan pendaftaranya?" tanya Arini (sahabatku) yang selama ini sudah membantu aku untuk mempersiapkan pendaftaran. Aku bersyukur sekali karena mempunyai sahabat seperti dia.

"Udah semua ku siapkan, tinggal masalah biaya pendaftaran yang ku bingungkan," jawabku.

"Wahai sahabat ku yang lugu ini... jangan sedih ya hehe... kalaunya untuk kebaikan pasti ada jalannya (seperti Kesatria Baja Hitam selalu menang dalam memerangi musuhnya Gordon, memang enggak nyambung deng) ya asal kita mau berusaha dan berniat serta bertekad kuat tidak menyerah juga pantang putus asa." Jawab Arini sok bijak untuk menghibur hatiku yang sedang lara.



"Kamu serahkan saja pada yang Maha Kuasa, Sang pemberi Rezeki," katanya lagi sambil menepuk pundakku dan memperlihatkan wajahnya yang lucu.

Sehabis (Dinner 1) aku duduk santai di depan teras rumahku yang reot ini beratapkan Seng (bukan Multi Roof 2)  ditemani secangkir kopi manis buatan istriku yang paling manis se kampung ini . Sambil menerawang (bukan Dukun loh !) maksudnya melihat ke atas langit mengharapkan Bintang jatuh ( mukjizat yang turun dari sang Pencipta). Istriku yang sejak tadi duduk di sampingku terus memperhatikan aku kebingungan seperti orang kena amnesia 3 ( bukannya Onengisme 4).

"Pa.. pakai ini saja dulu untuk biaya kuliah !" kata istriku setelah masuk ke dalam rumah kulihat dia membawa sebuah kalung emas (bukan rantai kapal loh! Emangnya Herkules ), aku tahu itu merupakan kalung dia satu-satunya itu pun kalung dia sewaktu masih gadis. Semenjak kami berumah tangga walau di rumah belum ada tangga, aku belum bisa membelikan dia apa-apa. Sungguh kasihan diriku ini.

"Jual saja Pa... untuk biaya pendaftaran mungkin cukup, nanti kalau ada rezeki kita beli lagi karena rezeki Tuhan yang mengaturnya Bapak tidak usah takut!" Kata Istriku lagi,

Ternyata istriku tahu bahwa isi hatiku (bukan isi tahu, itu mah gorengan) maksudnya perasaanku bahwa aku lagi ragu-ragu untuk menjual kalung milik istriku itu.

"Mama yakin.. kalau kalung ini dijual mama tidak memiliki perhiasan lagi..!! kataku

"Sudah lah pa.... Harta bisa kita dapatkan dan kita beli, mumpung ada kesempatan kuliah untuk bapak." Sambil tersenyum istriku membesarkan hatiku yang sedang ragu-ragu. Aku bersyukur sekali kepada Tuhan telah memiliki Istri yang sabar dan pengertian serta baiiik banget sama aku dan masa depan keluarga kami.

Aku pun dapat tidur dengan tenang malam itu dengan segaris senyum manis di bibirku, aku membayangkan akan menjadi seorang serjana dan wisuda lagi dengan menggunakan Toga sehingga bisa berguna bagi Nusa Bangsa dan Agama
************




"PERLOMBAAN DANCE"
By : Herlina Darma Yanti


Pengalaman yang menarik bagi saya saat saya mengikuti Dance. Dance itu hoby saya, dan sangat saya sukai, dalam dance ini personilnya ada tiga orang yaitu Lina saya sendiri, Joni dan Nadia. Setiap perlombaan kami selalu mengikutinya dan Alhamdulillah selalu mendapatkan juara anatara lain Juara 1, 2, 3, sampai juara Favorit.
Pengalaman yang sangat menantang saat kami mengikuti acara Lets Dance Global TV di Banjarmasin, semua penjuru kota mengikutinya dan yang paling jauh dan terpencil cuman Kotabaru Pulau Laut. Sedangkan, yang lain berasal dari kota-kota besar semua.
Tetapi kami bertiga tetap semangat. setiap hari kami selalu berlatih keras agar semuanya maksimal. Hari sudah semakin dekat dan kami pun berangkat ke Banjarmasin. Sampai delapan jam di perjalanan kemudian kami sampai di Banjarmasin. Kami pun langsung istirahat semua karena kecapean.
Setelah istirahat yang cukup kami pun berlatih lagi, dan sempat terjadi konflik beda pendapat antara saya dengan Joni. Masing-masing mencari gerakan yang bagus tetapi tidak sependapat yang mana mau diambil gerakkanya.
Kata Joni,"ning.. ini saja gerakannya ya..!!"
"Yang ini saja Jon.. gerakannya yang bagus", sayapun menjawab.
Joni pun bersikeras, "ini saja gerakan yang bagus".
"Waktunya tinggal sedikit saja lagi untuk latihan kalau berdebat terus kapan selesainya", Kata ku.
Kami simpulkan semua gerakan dan lumayan bagus, semoga saja semuaskan. Amiien…!!
Kami pun bersiap-siap, acaranya dimulai dari jam empat sampai jam sepuluh malam. Di Duta Mall Banjarmasin dan semua peserta sudah berkumpul.
Di sana acaranya sangat meriah, banyak selebritis yang datang seperti Pingkan Mambo. Ikhsan Idol, dan masih banyak lagi yang lainnya. Pembawa acaranya Ari Untung.
Lomba pun dimulai, pesertanya sangat banyak dan bagus-bagus semua. Akan tetapi, kostum yang unik dan gerakan yang unik juga cuman dari Kotabaru Pulau Laut saja, yaitu kami dari B'One Dancer.
Kami mendapatkan komentar yang sangat bagus dari Juri cuman sayang sekali kami Cuma bisa merebut Juara Favorit saja. yang jadi Juara Pertama dari Banjarmasin, dan mereka mengikuti lagi perlombaan selanjutnya ke Jakarta.
Kami pun bersyukur bisa dapat Juara Favorit dan membawa nama Harum Kotabaru Pulau Laut.
Kami mendapat Penghargaan dari Bupati Kotabaru Pulau Laut atas Prestasi kami ini.
Sesudah sampainya kami di Kotabaru kami mendapatkan tawaran untuk tampil di acara Lomba Tinju di Siring Laut. Banyak banget yang menonton, siring laut pun penuh dengan masyarakat yang ingin menonton.
Kami pun tampil dengan maksilmal dan sangat bahagia mendapat penghargaan dari Bupati Kotabaru.
Mungkin ini saja yang bisa saya bagikan sedikit pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya.


***** Selesai****





"PENDAFTARAN KULIAH"
By : Tri Wahyuni


Semenjak di bangku SD saya sangat kagum dengan namanya perawat. Menurut saya seorang perawat ini adalah pekerjaan yang sangat mulia, dan mulai di bangku SD lah saya ingin sekali menjadi seorang perawat. Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, akhirnya saya menerima amplop kelulusan di bangku SMA.
Woooooooooooooo…………………. Senangnya dalam hati, akhirnya keinginan untuk masuk ke Perguruan Tinggi tinggal selangkah lagi, itu sih pikiran saya. setelah kelulusan karena saya ingin mendaftar kuliah jurusan perawat maka saya mempersiapkan persyaratan atau surat-surat yang diperlukan untuk mendaftar di Perguruan Tinggi. Seperti mengambil ijazah / SKHU, membuat SKCK, dan masih banyak lagi yang lainya.
Setelah semua selesai, selain mendaftar jurusan perawat saya juga mendaftar di UNLAM di Banjarmasin melalui jalur SNMPTN yaitu Mendaftar lewat internet dan pembayaranya dapat diserahkan melaui Bank mandiri.
Setelah beberapa hari mendaftar SNMPTN saya mendapat informasi dari informan yang sangat terpercaya bahwa pendaftaran di Perguruan Tinggi Jurusan Keperawatan telah di buka. Dan dua hari setelah itu saya berangkat ke Banjarbaru bareng sama teman saya yang sama mendaftar Jurusan Perawat juga. Sepanjang perjalanan rasa senang bercampur gembira diolesi bahagia selalu menyelimuti hati yang berbunga-bunga searus dengan detak jarum jam yang berputar sepanjang waktu.
Sesampainya di Banjarbaru saya tinggal di Kost kakak Mitha, kak Mitha itu adalah kakaknya teman saya. ke esokannya saya dan teman saya itu mendaftar kuliah POLTEKKES Negeri Banjarbaru Jurusan Keperawatan setelah itu kami melihat-lihat ke tempat PT lainnya seperti UNISKA, UNLAM Fakultas Kedokteran, dan lain-lain.
Karena tes di POLTEKKES Negeri masih lama, lalu saya berangkat ke Banjarmasin karena akan mengikuti tes di UNLAM. Di Banjarmasin saya tinggal di rumah Paman saya, sesampainya di sana saya disambut dengan baik oleh keluarga paman saya.
Barulah ke esokan harinya saya di antar paman untuk mengikuti tes di UNLAM. Di sana saya banyak ketemu teman-teman juga yang mengikuti tes yang sama. Setelah beberapa hari tes pun selesai, kemudian saya kembali lagi ke Banjarbaru karena mengikuti tes di POLTEKKES Negeri Banjarbaru.
Untuk sementara selama tes saya tinggal satu atap dengan teman saya. di situ kami hidup dengan seadanya sampai makan pun juga. Susah senang kami bersama. Dan akhirnya tiba juga waktu yang ditunggu-tunggu yaitu hari dimana tes sudah datang. Tapi sayang aduhai sayang tes itu diiringi dinginnya angin tenggara yang di tiup oleh Dewa Sangkalla bersamaan menangisnya langit yang mengguyur kota Banjarbaru saat itu.
Karena matahari sudah condong ke arah barat dan para cacing di perut pada demo maen musik keroncong alias lapar, akhirnya saya memutuskan untuk pulang, walau pun harus hujan-hujanan berpayungkan pelepah daun pisang. Sesampainya di rumah, kami pun tidak berpikir panjang lagi karena kepala kami tidak panjang hehe.. (tidak nyambung). Kami segera makan dengan lahapnya sampai-sampai kami lupa cuci tangan dan gosok gigi. Setelah selesai kami pun istirahat. Tak terasa hari pun sudah senja bergantikan oleh timbulnya sang Dewi Malam yang bergantian sang Matahari. Akhirnya pagi pun tiba.
Berhubung tes sudah selesai akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan dengan bijak, "saya ingin pulang, saya rindu kampung halaman!" sesampainya di rumah saya pun disambut dengan penuh kerinduan dan tangis bahagia orang tua saya seperti suasana orang datang haji. Kemudian kami berpelukan seperti Teletubies. Kemudian saya dan ayah saya berbincang-bincang di teras rumah yang sangat masih asri. Ayah meminta saya untuk juga mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi di Kotabaru.
Ayah berkata,"Tri, alangkah bijaknya kamu juga mendaftarkan kuliah di Kotabaru !"
Aku pun menjawab, "Iya Ayah… memangnya ada apa gerangan yah?"
" Gini.. disini kan dekat sama keluarga apalagi kuliah di banjar kan tidak gampang disana terlalu bebas pergaulannya," jawab ayah.
Aku pun setuju, "iya, besok saya mendaftar, memangnya ayah tidak setuju kalau saya kuliah di Banjar ?"
"Bukannya tidak setuju, tapi ayah Cuma tidak mau kamu kenapa-kenapa, kalau disini kan dekat sama keluarga jadi lebih enak saja begitu!"
"ya.. sudahlah…sebenarnya saya juga takut nanti tidak ada yang mengontrol saya.."
" Tapi ya… terserah kamu, ayah sih selalu mendukung asal kamu benar-benar kuliahnya."
" Iya… Iya.. Yah..!!" kata ku menjawab dengan sopan.
Lalu ke esokan harinya saya mendaftar kuliah di STKIP Paris Barantai Kotabaru. Pendaftaran berjalan dengan baik, tes demi tes pun saya ikuti dan hasilnya pun juga sangat memuaskan. Saya di terima……… whooooo…. Senang beribi-ribu kali rasanya melayang ke udara. Akan tetapi, rasa bimbang, bingung membisikan hati saya. yaitu antara kuliah sesuai cita-cita atau kuliah yang tidak jauh dengan orang tua. Kartena tidak enak rasanya jauh dengan orang tua. Tapi semua itu dapat saya atasi dengan satu solusi. Dan akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di Kotabaru saja.
Karena eh karena saya yakin, saya pasti Bisaaaa….. bisa sukses tentunya dan menjadi lebih baik dan lebih bijak walau pun tidak harus kuliah di perawat. Sebab rezeki seseorang itu Allah lah yang mengaturnya. Asalkan kita mau dan berusaha juga bersungguh-sungguh dalam menjalaninya serta tidak mudah putus asa lagi tidak gampang mengeluh itulah kincinya.



***** Selesai****



"UALNG TAHUN KU"

By : Karmilawati


"Pada hari itu aku termenung sendiri di ruang kelasku. Aku ingat kalau hari itu adalah Hari Ulang Tahunku yang ke-17…!!!
Tapi mengapa tak seorang pun yang mengucapkan Selamat Ualng Tahun buat diriku. Termasuk teman-temanku, yang terutama adalah kekasihku.
Aku sedih pada hari itu.
Waktu demi waktu terus berputar, kegelisahanku makin mendalam. Tepat pukul 02.00 wita, waktunya aku pulang sekolah hingga sampai aku tiba di rumah…
Ketika sampai di rumah akupun tak menemukan apa-apa..!!! tapi ku tetap tegar menghadapinya….
Oohh… Tuhan.. tabahkanlah diriku…..
Seperti biasa sehabis pulang sekolah, aku lansung mandi… aku bergegas mengambilkan peralatan mandiku…
Waktu itu sehabis mandi, aku menatap wajah sedihku di cermin yang ada di dalam kamar mandiku…
Tak lama kemudian ada seorang temanku yang datang ke rumah…..
Dia mengajakku ke suatu tempat yang tak pernah ku kenal…
Ternyata oh ternyata… setiba di tempat itu, tempat itu adalah sebuah kafe yang terletak di Senggigi Beach…
Dia mengajak masuk ke kafe itu… "mereka beramai-ramai menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun buat diriku…
Aku tak menyangka kalau mereka sudah menyiapkan semua itu tanpa sepengetahuanku…
Terima kasih yaa… Allah.
Ternyata kesedihanku terbalas menjadi sebuah kebahagiaan yang tak pernah ku lupakan samapai kapan pun … !!!!




***** Selesai****