Selasa, 25 Januari 2011

TIPS: Kesendirian Tidak Selamanya Mematikan!

Kesendirian Tidak Selalu Mematikan!


Gusti, banyak orang yang tidak menyukai kesendirian,
karena waktu yang dilewati terasa lebih panjang dan
melelahkan.

'Sendiri oh sendiri'... Ternyata hal remeh ini bisa
menjadi masalah besar bagi sebagian orang!

Apakah Gusti termasuk yang demikian? :-)

Memang, kesendirian seringkali diidentikkan dengan hal
yang menakutkan, mengesalkan, bahkan menjadi simbol
kesedihan. Namun, jika kita mau membuka pikiran,
sebenarnya kesendirian itu tidak selalu mematikan!

Kesendirian bisa memiliki dua makna...

Pertama, kesendirian menyangkut fisik yang sebenarnya,
tanpa ada orang di sekitarnya. Kedua, hanya berbentuk
perasaan saja.

Bisa jadi seseorang berada di tengah keramaian, namun
merasakan kesunyian. Mungkin Gusti pernah mengalami
hal serupa, terutama ketika menemui masalah dengan
rekan kerja, sahabat, keluarga, atau pacar? :-) dan lain
sebagainya..!

Satu hal yang perlu Gusti ingat, kesendirian dengan arti
apapun sebenarnya bukan masalah jika kita mampu
mengelolanya dengan baik, atas perasaan, sikap dan
segala situasinya.

Bagaimana kita bisa mengelola kesendirian supaya lebih
bermakna? Lakukan hal berikut :

1. Cari kesibukan dengan melakukan aktivitas positif
yang sangat Gusti sukai, misalnya dengan membaca,
menulis, olahraga, menyanyi? :-) Apapun kesukaan
Gusti. Dengan cara ini, kesendirian akan terasa lebih
menyenangkan!

2. Kedua, ingat-ingat kembali hal-hal yang menjadi
impian Gusti dan belum sempat dilakukan. Gusti bisa
membuka agenda-agenda pribadi, foto-foto jaman
dulu, buku-buku, dan lain sebagainya.

Percaya, cara ini akan menyadarkan Gusti akan
sempitnya waktu untuk mewujudkan segalanya.
Kalau sudah begini, bukankah kesendirian itu jadi
menyenangkan? ;-)

3. Ketiga, buat daftar sebanyak-banyaknya tentang
keinginan yang ingin Gusti wujudkan selagi masih
hidup. Mungkin dengan cara menuliskan kembali
'keinginan gila' saat Gusti masih kecil? Atau mimpi-
mimpi lain yang belum terlaksanakan?

Saat itu Gusti akan sadar, ternyata banyak sekali
hal yg memerlukan kesendirian utk mewujudkannya!

4. Dan yang terakhir.... Sebenarnya ini merupakan hal
*utama* dan yang pertama yang harus Gusti lakukan...
Mendekatlah kepada Yang Maha Mencinta diri Gusti.
Kesendirian ini akan semakin menyadarkan hakekat
keberadaan Gusti di dunia.

Semakin keyakinan ini kuat, maka akan semakin
kokoh kemampuan Gusti mengarungi kehidupan,
dengan segala situasinya.

Intinya, jangan biarkan Gusti terjebak dalam kesendirian
dengan suasana 'hati yang negatif', membiarkannya
berlarut-larut, hingga membuat Gusti putus asa.

Kalau Gusti mau membuka mata, kita sebenarnya tidak
pernah benar-benar sendiri. Ada orang lain di sekitar
kita.

Yang jelas, pasti selalu ada orang yang bisa Gusti
jadikan teman, dan ajak bicara!

Jika Gusti mau terbuka, dalam kesendirian Gusti bisa
merenungkan banyak hal. Dalam kesendirian Gusti bisa
menemukan kedewasaan, kebijaksanaan, ide brilian,
dan memaksimalkan potensi yang Gusti miliki.

Dalam kesendirian pula Gusti bisa mengungkap
kejujuran, yang bisa jadi terkalahkan oleh sombong dan
ego yang seringkali Gusti temukan di keramaian!

Tidak bisa dipungkiri, kesendirian bisa datang kapan
saja kepada setiap orang, termasuk kepada Gusti.

Nah, jika suatu saat atau bahkan saat ini Gusti sedang
dilanda 'kesepian' alias merasa 'sunyi sepi sendiri',
Gusti harus ingat, bahwa kesendirian tidak selamanya
mematikan!

Kelola-lah perasaan Gusti dengan baik, dan buatlah
kesendirian menjadi lebih bermakna. :-)

TIPS: Cara Metetapkan Tujuan Hidup!

"Tetapkan Tujuan Hidup"

Ditulis oleh: Anne Ahira

Gusti,

"Without goals, and plans to reach them, you are
like a ship that sail with no destination" --
(Fritzhugh Dodson)

Itulah perumpamaan bagi orang yang tidak punya
tujuan dalam hidupnya.

Banyak orang melakoni perannya, tapi tidak tahu
arah hidup yang ingin ditujunya. Mereka-reka hidup
adalah apa yang kemudian dilakukannya.

Bila sesuatu hal buruk terjadi, mereka akan berdalih
nasib tak berpihak padanya.

Tidak jarang seseorang baru menyadari tujuan
hidupnya pada usia tua. Sangat disayangkan memang.

Seringkali orang tidak berani melakukan perubahan
dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu
adanya perubahan tersebut... hingga akhirnya tujuan
hidupnya tidak tercapai!

Sebenarnya, tidak masalah jika kita harus mengubah
tujuan hidup beberapa kali. Hal yg terpenting adalah
setiap saat kita mempunyai tujuan hidup yang ingin
dicapai.

Setidaknya kita tahu ke mana kita akan berjalan dan
strategi apa yang harus diambil.

4 Cara Yang Bisa Gusti Pakai Untuk Menetapkan
Tujuan Hidup:

1. Apa sebenarnya keinginan Gusti?

Tanyakan pada hati nurani, apa sebenarnya
keinginan Gusti untuk beberapa tahun ke depan?

Tidak ada salahnya Gusti bermimpi. Gusti
tidak perlu malu mengakuinya, lagipula, tokh tidak
ada biaya yang harus Gusti keluarkan untuk
sekedar bermimpi. ;-)

2. Kumpulkan informasi.

Dengan mengumpulkan informasi, Gusti
bisa lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan.

Jika ada orang lain yang sudah berhasil melakukan
yang Gusti inginkan, belajarlah dari mereka.
Lakukan apa yang mereka kerjakan!

3. Jangan diam.

Lakukan sesuatu dan secara terus menerus yang akan
membawa Gusti pada impian hidup yang diinginkan!

4. Tingkatkan kemampuan

Jika ada cara yang Gusti lakukan terbukti efektif
dan mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai,
maka alangkah baiknya jika Gusti berusaha untuk
meningkatkan kemampuan dan menambah kecepatan
kinerja agar tujuan hidup Gusti lebih cepat tercapai.

Jika keempat hal di atas Gusti lakukan secara terus
menerus tanpa lelah dan bosan, Insya-Allah Gusti
akan mendapatkan tujuan hidup yang diinginkan.

Gusti ibaratnya adalah seorang 'pemahat' atas
gambaran kehidupan Gusti sendiri. Dan seorang
pemahat yang baik akan selalu memiliki 'planning'
terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang
terbaik.

Dalam hal ini, Gusti pun hanya bisa sebesar dan
sebahagia sebagaimana tujuan yang telah Gusti
tentukan. Oleh sebab itu, pahatlah diri Gusti
sebaik-baiknya!


********** Resource Box ***************

Anne Ahira - PENDIRI Asian Brain Internet Marketing Center.
Asian Brain adalah pusat pendidikan "Internet Marketing" PERTAMA
dan Terbaik di Indonesia.

Keberhasilan Anne Ahira di dunia Internet telah banyak
dipublikasikan oleh media masa. Dia dikenal sebagai Pakar
Online Marketing.

Sejak tahun 2005, dia membuka 'Sekolah Online' khusus
untuk orang Indonesia belajar bagaimana mencetak DOLLAR
melalui internet diajarkan melalui VIDEO!

Muridnya kini telah mencapai RIBUAN dan terus
bertambah setiap hari!

TIPS: Bagaimana Cara Menyikapi Kritikan

Kritik Anda adalah Kue Anda

Ditulis oleh: Anne Ahira untuk Gusti

Gusti,

"Anda tidak berhak dipuji kalau tidak
bisa menerima kritikan."
-- Halle Berry, 2005

Itulah kalimat dahsyat yang disampaikan
Halle Berry, artis peraih Oscar melalui
film James Bond 'Die Another Day' di
tahun 2004 ketika mendapat piala Razzie
Award.

Razzie Award adalah penghargaan yang
diberikan kepada mereka yang dinilai
aktingnya buruk. Label pemain terburuk
ini didapatkan Halle setelah memainkan
perannya di film 'Cat Woman'.

Ia adalah orang yang pertama kali
langsung datang ke tempat pemberian
penghargaan tersebut.

Tidak ada Aktor dan Artis lain
sebelumnya yang sanggup datang dan
hanya menyampaikan pesannya melalui
video.

Sambutannya sungguh menarik : "Saya
menerima penghargaan ini dengan tulus.
Saya menganggap ini sebagai kritik
bagi saya untuk tampil lebih baik di
film-film saya berikutnya. Saya masih
ingat pesan ibu saya bahwa... 'Kamu
tidak berhak dipuji kalau kamu tidak
bisa menerima kritikan'."

Tepukan tangan sambil berdiri sebagai
bentuk ketakjuban dari para hadirin
sangat memeriahkan malam itu. Ya,
sangat sedikit orang yang sanggup
menerima kritikan seperti Halle.

Nah, sekarang, apa arti kritik bagi
Gusti? Apakah itu musibah buruk?
Seperti bencana yang tidak terduga,
atau... simbol kehancuran diri? Adakah
yang bisa menganggap kritik layaknya ia
menerima pujian?

Kritik memiliki banyak bentuk...

Kritik bisa berupa nasehat, obrolan,
sindiran, guyonan, hingga cacian pedas.
Wajar saja jika setiap orang tidak suka
akan kritik.

Bagaimanapun, akan lebih menyenangkan
jika kita berlaku dan tampil sempurna,
memuaskan semua orang dan mendapatkan
pujian.

Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa
kita bisa aman dari kritik? Tokh kita
hanyalah manusia dengan segala
keterbatasannya. Dan nyatanya, di dunia
ini lebih banyak orang yang suka
mengkritik, daripada dikritik. :-)

Kalau Gusti suka sepak bola, pasti
sering mengamati para komentator dalam
mengeluarkan pernyataan pedasnya.

Padahal belum tentu kepandaian mereka
dalam mengkritik orang lain sebanding
dengan kemampuannya jika disuruh
memainkan bola sendiri di lapangan. ;-)

Belum lagi para pakar dan pengamat
politik, ekonomi, maupun sosial. Mereka
ramai-ramai berkomentar kepada publik,
seolah pernyataan merekalah yang paling
benar. :-)

Namun bukan itu permasalahannya!

Pertanyaannya sekarang adalah...
seandainya Gusti mendapatkan kritikan,
yang sakitnya melebihi tamparan, apa
yang harus Gusti lakukan?

Jawabannya adalah...

=> Nikmatilah setiap kritikan layaknya
kue kegemaran kita!

Mungkinkah? Mengapa tidak! :-)

Kita mempunyai wewenang penuh untuk
mengontrol perasaan kita.

Berikut tips untuk Gusti saat menghadapi
kritik:

1. Ubah Paradigma Gusti Terhadap Kritik

Gusti, tidak sedikit orang yang jatuh
hanya gara-gara kritik, meski tidak
semua kritik itu benar dan perlu
ditanggapi. Padahal, kritik menunjukkan
adanya yang *masih peduli* kepada kita.

Coba perhatikan perusahaan-perusahaan
besar yang harus mengirimkan berbagai
survey untuk mengetahui kelemahannya.

Bayangkan jika Gusti harus melakukan
hal yang sama, mengeluarkan banyak uang
hanya untuk mengetahui kekurangan
Gusti! LoL. :-)

Kritik merupakan kesempatan untuk
koreksi diri. Tentu saja akan
menyenangkan jika mengetahui secara
langsung kekurangan kita, daripada
sekedar menerima dampaknya, seperti
dikucilkan misalnya.

2. Cari tahu sudut pandang si pengkritik

Tidak ada salahnya mencari tahu detil
kritik yang disampaikan. Gusti bisa
belajar dari mereka dan melakukan
koreksi terhadap diri Gusti. Bisa jadi
kritik yang disampaikan benar adanya.

Jika perlu, justru carilah orang yang
mau memberikan kritik sekaligus saran
kepada Gusti. Tokh Gusti tidak akan
menjadi rendah dengan hal itu.

Justru sebaliknya, pendapat orang bisa
jadi membuka persepsi, wawasan, maupun
paradigma baru yang mendukung goal
Gusti.

3. Kritik tidak perlu dibalas dengan kritik!

Tanggapi kritik dengan bijak. Gusti
tidak perlu merasa marah atau
memasukkannya ke dalam hati. Toh
menyampaikan pendapat adalah hak semua
orang.

Nikmatilah apapun yang mereka
sampaikan. Tidak ada ruginya untuk
ringan dalam mema'afkan seseorang.
Anggaplah semua itu untuk perbaikan
yang menguntungkan Gusti kelak.

Jangan pernah Gusti balas kritik dengan
kritik. Karena hal ini hanya akan
membuat perdebatan, menguras tenaga &
pikiran. Tidak ada gunanya...

4. Terimalah kritikan dengan senyuman. ^_^

Ini semua bisa melatih mental kita agar
bisa *tegar* menghadapi ujian yang
lebih hebat di kemudian hari.

Singkatnya, kita memang hanya layak
dipuji jika sudah berani menerima
kritikan. Meski tidak mudah, asah terus
keberanian Gusti untuk menikmati kritik
layaknya menikmati kue Gusti.

Ingat, pujian dan apresiasi hanya akan
datang apabila kita sudah melakukan
sesuatu yang berharga.

So, jangan pernah bosan untuk memburu
kritik, dan tanggapilah setiap kritik dengan
lapang dada! :-)

Senin, 17 Januari 2011

Tentang Menyimak

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Secara kodrat manusia akan selalu hidup bersama. Dalam kehidupan inilah terjadi interaksi dan komunikasi yang baik dengan alam lingkungan, dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Tak ada yang lebih menjengkelkan daripada merasakan bahwa orang yang dekat dengan kita tidak mau mendengarkan apa yang kita sampaikan (Nichols 1997:5).
Dalam hal ini, alat indera yang paling berperan besar adalah telinga. Telingalah yang mampu mendengar suara apapun, yang nantinya dapat kita kirim ke otak untuk seterusnya disampaikan atau diujarkan melalui alat ucap (mulut).
Kegiatan mendengar ada unsur ketidaksengajaan, kebetulan, sambil lalu, dan tidak dicerna. Oleh karena itu, apa yang didengar mungkin tidak dimengerti sama sekali. Pada peristiwa mendengarkan ada unsur kesengajaan tetapi belum diikuti unsure pemahaman. Dan menyimak dapat dikatakan mencakup mendengar, mendengarkan dan disertai usaha pemahaman.
Menyimak selalu digunakan dalam kehidupan manusia karena manusia selalu dituntut untuk menyimak, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam keluarga, manusia selalu dituntut untuk menyimak. Pemerolehan bahasa seorang anak juga berawal dari menyimak ujaran di lingkungan keluarga.
Dalam pergaulan di masyarakat, kegiatan menyimak lebih banyak dilakukan daripada kegiatan berbahasa yang lain. Hal ini dibuktikan oleh Rivers (dalam Sutari, dkk. 1997 : 8), kebanyakan orang dewasa menggunakan 45% waktunya untuk menyimak, 30% untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan 9% untuk menulis. Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa keterampilan menyimak sangat berperan dalam kehidupan manusia di lingkungan masyarakat.
Oleh karena itu, kegiatan menyimak sangat penting untuk dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Namun, hingga kini masih ada masyarakat yang belum bisa ataupun belum mengetahui bagaimana cara menyimak yang baik.


1.2. Perumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini kami akan memfokuskan pada beberapa masalah di bawah ini :
1. Tahap-tahap apa saja dalam menyimak
2. Bagaimana proses menyimak
3. Hal-hal apa saja yang perlu disimak
4. Saran praktis apa yang dapat meningkatkan keterampilan menyimak


1.3. Batasan Masalah
Dalam batasan masalah ini, kami akan membatasi masalah tentang ruang lingkup menyimak di kalangan siswa.


1.4. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui tahapan dan proses menyimak yang bagaimana yang harus dipelajari dan dipahami oleh siswa.
2. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu disimak oleh siswa
3. Meningkatkan keterampilan menyimak para siswa


1.5. Sistematika Penulisan
JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Perumusan Masalah
1.3. Batasan Masalah
1.4. Tujuan Penulisan
1.5. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Menyimak
2.2. Tujuan Menyimak
2.3. Jenis-jenis menyimak
2.4. Tahap-tahap Menyimak
2.5. Proses Menyimak
2.6. Hal-hal yang perlu disimak
2.7. Tips menyimak pelajaran dengan baik
2.8. Saran praktis meningkatkan keterampilan menyimak
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Menyimak
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Menyimak adalah proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambing-lambang lisan (Anderson, 1972: 68)
Menyimak adalah mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi. (Russel & Russell, 1959;Anderson, 1972: 69).
Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak (Panduan & Sastra Indonesia, Natasasmita Hanapi, Drs; 1995: 18).
Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. (Djago Tarigan; 1991: 4).


2.2. Tujuan Menyimak
1. menyimak untuk meyakinkan
2. menyimak untuk belajar
3. menyimak unuk menikmati
4. menyimak untuk menganalisis fakta
5. menyimak unuk mengevaluasi fakta
6. menyimak untuk mengapresiasi
7. menyimak untuk mengomunikasikan ide-ide
8. menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi
9. menyimak untuk memecahkan masalah
10. menyimak untuk inspirasi
11. menyimak untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri


2.3. Jenis-jenis menyimak
Pengklarifikasian menyimak berdasarkan:
a. Sumber suara
b. Cara penyimak bahan yang disimak
c. Tujuan menyimak
d. Taraf aktivitas penyimak

Berdasarkan sumber suara yang disimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) Intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi
2) Interpersonal listening atau penyimak antar pribadi

Berdasarkan pada cara penyimakan bahan yang disimak, dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1) Menyimak ekstensif (extensive listening)
Menyimak ekstensif ialah kegiatan menyimak tidak memerlukan perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak hanya memahami seluruh secara garis besarnya saja.
Menyimak ekstensif meliputi
a) Menyimak sosial
b) Menyimak sekunder
c) Menyimak estetik

2) Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam.
Menyimak intensif meliputi:
a) Menyimak kritis
b) Menyimak introgatif
c) Menyimak penyelidikan
d) Menyimak kreatif
e) Menyimak konsentratif
f) Menyimak selektif


2.4. Tahap-Tahap Menyimak
Dari pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan menyimak pada para siswa, Ruth G. Strickland menyimpulkan adanya Sembilan tahap menyimak. Yaitu :
1. Menyimak berkala, yang terjadi pada saat-saat sang anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya;
2. Menyimak dengan perhatian dangkal karena sering mendpat gangguan dengan adanya selingan-selingan perhatian kepada hal-hal di luar pembicaraan’
3. Setengah menyimak karena terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan untuk mengekspresikan isi hati serta mengutarakan apa yang terpendam dalam hati sang anak;
4. Menyimak serapan karena sang anak keasyikan menyerap atau mengabsorpsi hal-hal yang kurang penting, hal ini merupakan penjaringan pasif yang sesungguhnya;
5. Menyimak sekali-sekali, menyimpan sebentar-sebentar apa yang disimak; perhatian secara saksama bergantian dengan keasyikan lain; hanya memperhatikan kata-kata sang pembicar yang menarik hatinya saja;
6. Menyimak asosiatif, hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan yang mengakibatkan sang penyimak benar-benar tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan sang pembicara;
7. Menyimak dengan reaksi berkala terhadap pembicara dengan membuat komentar ataupun mengajukan pertanyaan;
8. Menyimak secara saksama, degan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran sang pembicara;
9. Menyimak secara aktif untuk mendapatkan serta menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan sang pembicara (Strickland, 1957: (Dawson [et all], 1963: 154).

Untuk memperluas cakrawala kita mengenai tahap-tahap menyimak ini. Ada pakar lain yang mengemukakan adanya 7 tahapan dalam menyimak.
1. Isolasi : pada tahap ini sang penyimak mencatat aspek-aspek individual kata lisan dan memisahkan atau mengisolasikan bunyi-bunyi, ide-ide, fakta-fakta, organisasi-organisasi khusus.
2. Identifikasi : sekali stimulus tertentu telah dapat dikenal maka suatu makna atau identitas pun diberikan kepada setiap butir yang berdikari itu.

3. Integrasi : kita mengintegrasikan atau menyatupadukan sesuatu yang kita dengan dengan informasi lain yang telah kita simpan dan rekam dalam otak kita.
4. Inspeksi : pada tahap ini, informasi baru yang telah kita terima dikontraskan dan dibandingkan dengan segala informasi yang telah kita miliki mengenai hal tersebut.
5. Interpretasi : pada tahap ini, kita secara aktif mengevaluasi sesuatu yang kita dengar dan menelusuri dari mana datangnya semua itu.
6. Interpolasi : selama tidak ada pesan yang membawa makna dalam dan member informasi, tanggung jawab kitalah untuk menyediakan serta memberikan data-data dan ide-ide penunjang dar latar belakang pengetahuan dan pengalaman kita sendiri untuk mengisi serta memenuhi butir-butir pesan yang kita dengar.
7. Intropeksi : dengan cara merefleksikan dan menguji informasi baru, kita berupaya untuk mempersonalisasikan informasi tersebut dan menerapkannya pada situasi kita sendiri Hunt; 1981: 18-9).


2.5. Proses Menyimak
Menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Dalam proses menyimak pun terdapat tahap-tahap, antara lain :
1. Tahap mendengar; dalam tahap ini kita abru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atas pembicaraannya. Jadi, kita masih berada dalam tahap hearing.
2. Tahap memahami; setelah kita mendengar maka ada keinginan bagi kita untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang dismpaikan oleh pembicara. Kemudian, sampailah kita dalam tahap understanding.
3. Tahap menginterpretasikan; penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahamu isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran itu; dengan demikian, sang penyimak telah tiba pada tahap interpreting.

4. Tahap mengevaluasi; setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicaraan, penyimak pun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan pembicara mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebaikan dan kekurangan pembicara; dengan demikian, sudah sampai pada tahap evaluating.
5. Tahap menanggapi; tahap ini merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. Penyimak menyambut, mencamkan, dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Lalu, penyimak pun sampailah pada tahap menanggapi (responding). (Logan [et all], 1972: 39; Loban [et all], 1969: 243).


2.6. Hal-hal yang perlu disimak
Khusus mengenai bahasa, lebih-lebih bahasa asing, para pelajar haruslah menyimak serta mengenal dan memahami hal-hal berikut ini (karena sama mengandung makna):
1. Bunyi-bunyi fonemis atau bunyi-bunyi distingsif bahasa yang bersangkutan, dan pada akhirnya variasi-variasi fonem yang bersifat personal atai dialek seprti dipakai atau diucapkan oleh beberapa pembicara asli, penduduk pribumi;
2. Urutan-urutan bunyi beserta pengelompokan-pengelompokannya; panjangnya jeda; pola-pola intonasi;
3. Kata-kata tugas beserta perubahan-perubahan bunyi sesuai dengan posisinya di depan kata-kata lain.
4. Infeksi-infeksi untuk menunjukkan jamak, waktu, milik, dan sebagainya;
5. Perubahan-perubahan bunyi dan pertukaran-pertukaran fingsu yang ditimbulkan oleh derivasi, misalnya adil, keadilan,pengadilan, mengadili, dan diadili dalam bahasa Indonesia;
6. Pengelompokan-pengelompokan structural, misalnya yang berhubungan denga frasa-frasa verbal, preposisional;
7. Petunjuk-petunjuk urutan kata yang menyangkut fungsi dan makna;
8. Makna kata-kata yang bergantung pada konteks atau situasi pembicaraan, misalnya kaki meja, kaki gunung, kaki tangan musuh, tingginya seribu kaki, dan sop kaki;

9. Kata-kata salam, kata-kata sapaan, kata-kata pendahuluan, dan kata-kata keraguan yang terdapat dalam ujaran atau pembicaraan;
10. Makna budaya (cultural meaning) yang terkandung atau tersirat dalam suatu pesan atau ujaran.


2.7. Tips menyimak pelajaran dengan baik
Akan bermanfaat sekali jika Anda dapat menyimak pelajaran dengan baik di kelas. Banyak hal-hal yang perlu Anda pelajari, disampaikan secara lisan oleh guru Anda. Hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh guru, tidak sama dengan menyimak apa yang disampaikannya.
Menyimak adalah tindakan untuk memahami. Dan untuk itu Anda perlu memperhatikan/mengikuti dengan seksama, memikirkannya, dan secara mental mengolah apa yang didengar. Berikut ini adalah beberapa hal yang pelu dilakukan untuk menjadi penyimak yang baik di kelas.
1. Melakukan persiapan-persiapan. Lakukanlah persiapan untuk memahami apa yang didengar sebelum datang ke kelas. Yakinkanlah diri Anda bahwa PR dan tugas bacaan sudah dikerjakan. Lihat kembali catatan dari pelajaran yang lalu. Pikirkan apa yang Anda ketahui mengenai topik yang akan dicakup di kelas hari ini.
2. Secara emosional siap untuk menyimak. Dalam hal ini sikap Anda penting. Secara sadar pilihlah topik yang penting dan berguna. Lakukanlah segala usaha untuk mempelajariya.
3. Menyimak dengan suatu tujuan. Dapatkanlah apa yang Anda perkirakan atau harapkan akan dipelajari pada sesi di kelas hari ini. Perhatikan hal-hal ini ketika guru Anda berbicara.
4. Menyimak denga pikiran terbuka. Artinya mau menerima apa-apa yang dikatakan oleh guru Anda. Mengajukan pertanyaan atas apa yang disampaikan itu bagus. Tapi hendaknya Anda juga terbuka untuk menerima perbadaan pendapat.
5. Penuh perhatian. Pusatkan perhatian kepada hal-hal yang disampaikan oleh guru Anda. Cobalah untuk tidak melamun atau membiarkan pikirang Anda mngembara ke hal-hal lain. Akan sangat membantu jika Anda duduk di deretan depan bagian tengah. Dengan demikian Anda selalu dapat melakukan kontak mata denga guru.
6. Menjadi pendengar yang aktif. Anda dapat berpikir lebih cepat daripada guru Anda berbicara. Pergunakan keuntungan ini untuk mengevaluasi apa yang sudah dikatakan, dan mengantisipasi apa yang akan dikatakan. Buatlah catatan yang baik mengenai hal-hal yang disampaikan. Tapi Anda tidak dapat menulis lebih cepat daripada guru Anda berbicara. Maka Anda harus memutuskan apa yang akan ditulis, dan untuk melakukannya, Anda perlu menjadi pendengar yang baik.
7. Terimalah tantangan. Janganlah menyerah dan berhenti menyimak jika Anda mendapati bahwa informasi yang disampaikan sulit untuk dicerna. Simaklah dengan lebih seksama dan usahakanlah lebih keras lagi untuk memahaminya. Jangan ragu untuk bertanya.
8. Memenangkan tantangan lingkungan. Ruang kelas mungkin terlalu ribut, terlalu panas atau terlalu dingin, terlalu gelap atau terlalu terang. Jangan meyerah karena ketidak-nyamanan ini. Tetaplah fokus kepada tujuan yang lebih besar BELAJAR.


2.8. Saran praktis meningkatkan keterampilan menyimak
Untuk meningkatkan ketrampilan menyimak, ada beberapa saran yang dapat kita manfaatkan. Beberapa di antara saran yang praktis itu di terangkan dalam penjelasan berikut :
1. Bersikaplah secara positif
Kita harus beranggapan bahwa pembicara ialah orang penting dan menarik, orang yang mempunyai banyak pengetahuan dan akan menyajikan bahan-bahan dan gagasan-gagasan yang berguna dan menyenangkan bagi kita.
2. Bertindaklah responsif
Selaku penyimak yang baik, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri keinginan yang dikehendaki atau dituntut oleh sang pembicara kepada diri kita. Pembicara mungkin saja menginginkan kita sebagai wadah, tempat, sasaran yang akan diberi informasi, yang akan diyakinkan atau dihibur.
3. Cegahlah gangguan-gangguan
Agar dapat menjadi penyimak yang baik, memang kita harus dapat menantang serta mencegah anek gangguan atau kendala yang mungkin timbul.
4. Simak dan tangkaplah maksud pembicara
Adakalanya pada permulaan untuk menyampaikan pesannya, pembicara justru mengutarakan atau menyatakan ataupun mengimplikasikan maksud dan tujuan penampilannya.
5. Carilah tanda-tanda apa yang akan datang
Para pembicara yang berpengalaman menyatakan maksud dan tujuan mereka dengan jelas, member penekanan pada butir-butir penting, serta menyajikan prapandangan bagi kerangka pidato atau ujarannya.
6. Carilah rangkuman pembicaraan terdahulu
Di samping menyajikan petunjuk-petunjuk mengenai apa yang akan datang, biasanya para pembicara yang sudah berpengalaman, yang sudah banyak makan garam dalam berbicara, melengkapi pidatonya dengan rangkuman-rangkuman singkat ataupun peringatan-peringatan bagi yang telah diutarakan terdahulu.
7. Nilailah bahan-bahan penunjang
Kalau situasi menuntut kita menyimak kritis, pserti pada persuasi dan memecahkan masalah, simaklah baik-baik secara cermat penjelasan-penjelasan atau keterangan-keterangan logis, contoh-contoh yang relevan, fakta-fakta, dan kesaksian-kesaksian.
8. Carilah petunjuk-petunjuk nonverbal
Gaya, mimik, gerak-gerik, dan gerakan pembicara merupakan bagian vital dari pesannya.

Diposkan oleh Xena Janitra Firmansyah di 06.06

Minggu, 16 Januari 2011

Karya Sastra Yang Baik

Pertama, karya sastra yang mengandung amanat, tendens, bersifat edukatif, dan memberi nasihat kepada pembaca kurang proporsional dan berlebih-lebihan.

Dimensi Kemanusiaan
Menurut pemahaman saya, sebuah karya sastra yang baik mustahil dapat menghindar dari dimensi kemanusiaan, komplit dengan segala thethek-mbengek yang bergelayut dengan masalah kehidupan manusia dengan segala problematikanya yang begitu majemuk. Kejadian-kejadian yang terjadi dalam masyarakat pada umumnya dijadikan sebagai sumber ilham bagi para sastrawan yang kemudian ditarik dalam khazanah imajinasi untuk dihayati, direnungkan, diendapkan, kemudian disalurkan dalam wujud karya sastra. Dan saya pikir, seorang sastrawan pada umumnya mokal akan menghindari proses kreatif semacam itu.

Nah, beranjak dari konsep itu, maka manusia, masalah, dan lingkungannya itulah uang menjadi garapan para sastrawan. Oleh karena sumbernya berasal dari manusia, maka penggarapannya pun dikembalikan pada hakikat kehidupan manusia di alam semesta ini.
Seorang sastrawan, kebanyakan juga seorang intelektual. Mereka memiliki daya penalaran yang tinggi, mata batin yang tajam, sekaligus memiliki daya intuitif yang peka sekali yang jarang ditemukan dalam diri orang awam. Dalam hal ini, karya-karya sastra yang lahir pun akan diwarnai oleh latar belakang sosiokultural yang melingkupi kehidupan sastrawannya.
Suatu keabsahan tentu jika dalam karya sastra kita jumpai unsur-unsur ekstrinsik yang turut mewarnai karya sastra, seperti filsafat, psikologi, religi, gagasan, pendapat, sikap, keyakinan, dan visi lain dari pengarang dalam memandang sunia. Karena adanya unsur-unsur ekstrinsik itulah yang menyebabkan mengapa karya sastra tak mungkin terhindar dari amanat, tendensi, unsur mendidik, dan fatwa tentang makna kearifan hidup yang ingin disampaikan kepada pembaca. Oleh sebab itu, kehadiran unsur-unsur tersebut berbarengan dengan proses penggarapan kara sastra.

Nah, di sinilah peran sastra. Barangkali kita juga masih ingat pada insiden-insiden sekitar ’66. bagaimanakah ulah sastrawan pada masa itu? Meeka turun ke jalan-jalan dengan menyebarkan puisi-puisi penyemangat dalam upaya menggulingkan pemerintah Orde Lama sekaligus mengkritik penguasa yang membiarkan secara permisif semua kebobrokan moral yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin korup yang tak jujur. Dan bagaimana hasilnya? Karya sastra memang tidak langsung sekaligus memberikan perubahan-perubahan. Akan tetapi, ia menyemangati dan menyiasati kondiai zaman yang berdiri di belakang layar ketika kejadian-kejadian dalam masyarakat itu tengah berlangsung di layar kehidupan. Dan, akhirnya pemerintah Orde Lama berhasil ditumbangkan.

Produk Budaya
Pada mulanya, karya sastra memang untuk dinikmati keindahannya, bukan untuk dipahami. Akan tetapi, mengingat bahwa karya sastra juga merupakan sebuah produk budaya, maka persoalannya menjadi lain. Karya sastra berkembang sesuai dengan proses kearifan zaman sehingga lama-kelamaan sastra pun berkembang fungsinya. Yang semula hanya sekadar menghibur, pada tahapan proses berikutnya karya sastra juga dituntut untuk dapat memberikan sesuatu yang berguna bagi pembaca. Hal ini relevan dengan idiom sastra “Dulce et Utile” (menyenangkan dan berguna).

Memang, persoalan estetika tak mungkin dilepaskan dalam sastra. Akan tetapi, untuk etika, nilai-nilai moral, dan feneomena-fenomena sosial yang tengah bergolak di tengah masyarakat juga mokal. Jadi, keduanya sama-sama penting kehadirannya dalam karya sastra. Karya sastra yang hanya bertaburkan bias-bias keindahan hanya melambungkan khayal yang bombastis, zonder diimbangi adanya bias-bias sosial, sama saja kita berhadapan dengan rumah sakit yang megah, tetapi tak ada pasien yang dirawat. Kehadirannya tak bermakna. Sepi dan lengang seperti layaknya sebuah goa pertapaan seorang resi.

Nah, kalau demikian halnya, bukankah justru akan memperlebar jarak antara karya sastra dan publik. Kalau kondisinya semacam ini, kekhawatiran bahwa sastra Indonesia mengalami alenasi, terpencil dari masyarakatnya akan menjadi kenyataan. Sebab apa? Ketika pembaca membaca sebuah karya sastra paling-paling hanya perasaan senang dan terpesona melihat keelokan paras Dewi Ratih dan ketampanan Dewa Kamajaya dari khayangan yang menbuat kita menjadi iri dan cemburu.

Sastra tak lagi memburu pegangan nilai-nilai moral, kesetiakawanan soial, dan segala thethek-mbengek persoalan manusia. Dus, dapat ditarik sebuah sintesis bahwa selain aspek estetika (tipografi), karya sastra juga harus menampilkan aspek etika (isi) dengan mengungkap nilai-nilai moral, kepincangan-kepincangan sosial dan problematika kehidupan manusia beserta kompleksnya persoalan-persoalan humani. ***

Karya Sastra dan Periodisasinya

A. Karya Sastra Bentuk Prosa

Karangan prosa ialah karangan yang bersifat menerangjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa dan lain-lain. Pada dasarnya karya bentuk prosa ada dua macam, yakni karya sastra yang bersifat sastra dan karya sastra yang bersifat bukan sastra. Yang bersifat sastra merupakan karya sastra yang kreatif imajinatif, sedangkan karya sastra yang bukan astra ialah karya sastra yang nonimajinatif.

Macam Karya Sastra Bentuk Prosa

Dalam khasanah sastra Indonesia dikenal dua macam kelompok karya sastra menurut temanya, yakni karya sastra lama dan karya sastra baru. Hal itu juga berlaku bagi karya sastra bentuk prosa. Jadi, ada karya sastra prosa lama dan karya sastra prosa baru.

Perbedaan prosa lama dan prosa baru menurut Dr. J. S. Badudu adalah:

Prosa lama:

1. Cenderung bersifat stastis, sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan secara lambat.

2. Istanasentris ( ceritanya sekitar kerajaan, istana, keluarga raja, bersifat

feodal).

3. Hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo atau dongeng. Pembaca

dibawa ke dalam khayal dan fantasi.

4. Dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab.

5. Ceritanya sering bersifat anonim (tanpa nama)

6. Milik bersama

Prosa Baru:

1. Prosa baru bersifat dinamis (senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat)

2. Masyarakatnya sentris ( cerita mengambil bahan dari kehidupan masyarakat sehari-hari)

3. Bentuknya roman, cerpen, novel, kisah, drama. Berjejak di dunia yang nyata, berdasarkan kebenaran dan kenyataan

4. Terutama dipengaruhi oleh kesusastraan Barat

5. Dipengaruhi siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas

6. Tertulis

1. Prosa lama

Prosa lama adalah karya sastra daerah yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Dalam hubungannya dengan kesusastraan Indonesia maka objek pembicaraan sastra lama ialah sastra prosa daerah Melayu yang mendapat pengaruh barat. Hal ini disebabkan oleh hubungannya yang sangat erat dengan sastra Indonesia. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan. Disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Dikenal bentuk tulisan setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Melayu mengenal tulisan. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.

Bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:

a. Mite adalah dongeng yang banyak mengandung unsur-unsur ajaib dan ditokohi oleh dewa, roh halus, atau peri. Contoh Nyi Roro Kidul

b. Legenda adalah dongeng yang dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat. Contoh: Sangkuriang, SI Malin Kundang

c. Fabel adalah dongeng yang pelaku utamanya adalah binatang. Contoh: Kancil

d. Hikayat adalah suatu bentuk prosa lama yang ceritanya berisi kehidupan raja-raja dan sekitarnya serta kehidupan para dewa. Contoh: Hikayat Hang Tuah.

e. Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Contoh: Cerita Pak Belalang.

f. Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam

1. Prosa Baru

Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Prosa baru timbul sejak pengaruh Pers masuk ke Indonesia yakni sekitar permulaan abad ke-20. Contoh: Nyai Dasima karangan G. Fransis, Siti mariah karangan H. Moekti.

Berdasarkan isi atau sifatnya prosa baru dapat digolongkan menjadi:

1. Roman adalah cerita yang mengisahkan pelaku utama dari kecil sampai mati, mengungkap adat/aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail/menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Contoh: karangan Sutan Takdir Alisjahbana: Kalah dan Manang, Grota Azzura, Layar Terkembang, dan Dian yang Tak Kunjung Padam

2. Riwayat adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa atau Prof. Dr. B.I Habibie atau Ki hajar Dewantara.

3. Otobiografi adalah karya yang berisi daftar riwayat diri sendiri.

4. Antologi adalah buku yang berisi kumpulan karya terplih beberapa orang. Contoh Laut Biru Langit Biru karya Ayip Rosyidi

5. Kisah adalah riwayat perjalanan seseorang yang berarti cerita rentetan kejadian kemudian mendapat perluasan makna sehingga dapat juga berarti cerita. Contoh: Melawat ke Jabar – Adinegoro, Catatan di Sumatera – M. Rajab.

6. Cerpen adalah suatu karangan prosa yang berisi sebuah peristiwa kehidupan manusia, pelaku, tokoh dalam cerita tersebut. Contoh: Tamasya dengan Perahu Bugis karangan Usman. Corat-coret di Bawah Tanah karangan Idrus.

7. Novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan kehidupan orang-orang. Contoh: Roromendut karangan YB. Mangunwijaya.

8. Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yangs ifatnya objektif dan menghakimi.

9. Resensi adalah pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.

10. Esei adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.

B. Puisi

Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Unsur-unsur intrinsik puisi adalah

a. tema adalah tentang apa puisi itu berbicara

b. amanat adalah apa yang dinasihatkan kepada pembaca

c. rima adalah persamaan-persamaan bunyi

d. ritma adalah perhentian-perhentian/tekanan-tekanan yang teratur

e. metrum/irama adalah turun naik lagu secara beraturan yang dibentuk oleh persamaan jumlah kata/suku tiap baris

f. majas/gaya bahasa adalah permainan bahasa untuk efek estetis maupun maksimalisasi ekspresi

g. kesan adalah perasaan yang diungkapkan lewat puisi (sedih, haru, mencekam, berapi-api, dll.)

h. diksi adalah pilihan kata/ungkapan

i. tipografi adalah perwajahan/bentuk puisi

Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.

a. puisi lama

Ciri puisi lama:

1. merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya

2. disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan

3. sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima

Yang termausk puisi lama adalah

1. mantra adalah ucapan-ucapan yangd ianggap memiliki kekuatan gaib

2. pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka

3. karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek

4. seloka adlah pantun berkait

5. gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat

6. syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita

7. talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris

b. puisi baru

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.Menurut isinya, puisi dibedakan atas

1. balada adalah puisi berisi kisah/cerita

2. himne adAlah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan

3. ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang ebrjasa

4. epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup

5. romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih

6. elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan

7. satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Membaca Puisi

Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam membaca puisi antara lain:

1. jenis acara: pertunjukkan, pembuka acara resmi, performance-art, dll.,

2. pencarian jenis puisi yang cocok dengan tema: perenungan, perjuangan, pemberontakan, perdamaian, ketuhanan, percintaan, kasih sayang, dendam, keadilan, kemanusiaan, dll.,

3. pemahaman puisi yang utuh,

4. pemilihan bentuk dan gaya baca puisi, meliputi poetry reading, deklamasi, dan teaterikal

5. tempat acara: indoor atau outdoor,

6. audien,

7. kualitas komunikasi,

8. totalitas performansi: penghayatan, ekspresi( gerak dan mimik)

9. kualitas vokal, meliputi volume suara, irama (tekanan dinamik, tekanan nada, tekanan tempo)

10. kesesuaian gerak,

11. jika menggunakan bentuk dan gaya teaterikal, maka harus memperhatikan:

a) pemilihan kostum yang tepat,

b) penggunaan properti yang efektif dan efisien,

c) setting yang sesuai dan mendukung tema puisi,

d) musik yang sebagai musik pengiring puisi atau sebagai musikalisasi puisi

C. Drama/Film

Drama atau film merupakan karya yang terdiri atas aspek sastra dan asepk pementasan. Aspek sastra drama berupa naskah drama, dan aspek sastra film berupa skenario. Unsur instrinsik keduanya terdiri dari tema, amanat/pesan, plot/alur, perwatakan/karakterisasi, konflik, dialog, tata artistik (make up, lighting, busana, properti, tata panggung, aktor, sutradara, busana, tata suara, penonton), casting (penentuan peran), dan akting (peragaan gerak para pemain).

D. Periodisasi Sastra Indonesia

Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain.

1. Zaman Sastra Melayu Lama

Zaman ini melahirkan karya sastra berupa mantra, syair, pantun, hikayat, dongeng, dan bentuk yang lain.

2. Zaman Peralihan

Zaman ini dikenal tokoh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Karyanya dianggap bercorak baru karena tidak lagi berisi tentang istana danraja-raja, tetapi tentang kehidupan manusia dan masyarakat yang nyata, misalnya Hikayat Abdullah (otobiografi), Syair Perihal Singapura Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Pembaharuan yang ia lakukan tidak hanya dalam segi isi, tetapi juga bahasa. Ia tidak lagi menggunakan bahasa Melayu yang kearab-araban.

3. Zaman Sastra Indonesia

a. Angkatan Balai Pustaka (Angkatan 20-an)

Ciri umum angkatan ini adalah tema berkisari tentang konflik adat antara kaum tua dengan kaum muda, kasih tak sampai, dan kawin paksa, bahan ceritanya dari Minangkabau, bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu, bercorak aliran romantik sentimental.

Tokohnya adalah Marah Rusli (roman Siti Nurbaya), Merari Siregar (roman Azab dan Sengsara), Nur Sutan Iskandar (novel Apa dayaku Karena Aku Seorang Perempuan), Hamka (roman Di Bawah Lindungan Ka’bah), Tulis Sutan Sati (novel Sengsara Membawa Nikmat), Hamidah (novel Kehilangan Mestika), Abdul Muis (roman Salah Asuhan), M Kasim (kumpulan cerpen Teman Duduk)

b. Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30-an)

Cirinya adalah 1) bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2) temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris, 4) pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda, 5)aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan 6) setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.

Tokohnya adalah STA Syhabana (novel Layar Terkembang, roman Dian Tak Kunjung Padam), Amir Hamzah (kumpulan puisi Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setanggi Timur), Armin Pane (novel Belenggu), Sanusi Pane (drama Manusia Baru), M. Yamin (drama Ken Arok dan Ken Dedes), Rustam Efendi (drama Bebasari), Y.E. Tatengkeng (kumpulan puisi Rindu Dendam), Hamka (roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck).

c. Angkatan ’45

Ciri umumnya adalah bentuk prosa maupun puisinya lebih bebas, prosanya bercorak realisme, puisinya bercorak ekspresionisme, tema dan setting yang menonjol adalah revolusi, lebih mementingkan isi daripada keindahan bahasa, dan jarang menghasilkan roman seperti angkatan sebelumnya.

Tokohnya Chairil Anwar (kumpulan puisi Deru Capur Debu, kumpulan puisi bersama Rivai Apin dan Asrul Sani Tiga Menguak Takdir), Achdiat Kartamiharja (novel Atheis), Idrus (novel Surabaya, Aki), Mochtar Lubis (kumpulan drama Sedih dan Gembira), Pramduya Ananta Toer (novel Keluarga Gerilya), Utuy Tatang Sontani (novel sejarah Tambera)

d. Angkatan ’66

Ciri umumnya adalah tema yang menonjol adalah protes sosial dan politik, menggunakan kalimat-kalimat panjang mendekati bentuk prosa.

Tokohnya adalah W.S. Rendra (kumpulan puisi Blues untuk Bnie, kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta), Taufiq Ismail (kumpulan puisi Tirani, kumpulan puisi Benteng), N.H. Dini (novel Pada Sebuah Kapal), A.A. Navis (novel Kemarau), Toha Mohtar (novel Pulang), Mangunwijaya (novel Burung-burung Manyar), Iwan Simatupang (novel Ziarah), Mochtar Lubis (novel Harimau-Harimau), Mariannge Katoppo (novel Raumannen).

E. Identifikasi Moral, Estetika, Sosial, Budaya Karya Sastra

1. Identifikasi Moral

Sebuah karya umumnya membawa pesan moral. Pesan moral dapat disampaikan oleh pengarang secara langsung maupun tidak langsung. Dalam karya satra, pesan moral dapat diketahui dari perilaku tokoh- tokohnya atau komentar langsung pengarangnya lewat karya itu.

2. Identifikasi Estetika atau Nilai Keindahan

Sebuah karya sastra mempunyai aspek-aspek keindahan yang melekat pada karya sastra itu. Sebuah puisi, misalnya: dapat diamati aspek persamaan bunyi, pilihan kata, dan lain-lain. Dalam cerpen dapat diamati pilihan gaya bahasanya.

3. Identifikasi Sosial Budaya

Suatu karya sastra akan mencerminkan aspek sosial budaya suatu daerah tertentu. Hal ini berkaitan dengan warna daerah. Sebuah novel misalnya, warna daerah memiliki corak tersendiri yang membedakannya dengan yang lain. Beberapa karya sastra yang mengungkapkan aspek sosial budaya:

a. Pembayaran karya Sunansari Ecip mengungkapkan kehidupan di Sulawesi Selatan.

b. Bako Karya Darman Moenir mengungkapkan kehidupan Suku Minangkabau di Sumatera Barat.

CIRI-CIRI MANUSIA ALAY KOTABARU

Saya jelaskan dulu, sebenarnya kata "ALAY" berasal dari kata Anak-LAYangan, di sebut begitu karena maksud dari kata tersebut adalah kampungan. Mengapa kampungan? Karena memang bermain Layang-Layang pada jaman sekarang sudah memang tidak jamannya dan di anggap "Kampungan". Kampungan sama halnya dengan berbagai tulisan-tulisan aneh yang beredar seperti sekarang. Dengan menuliskan kata dengan contoh= "AqU BieZ bliH HanDphond Barruw LogH", jaman seperti sekarang saja, tulisan-tulisan seperti itu sudah di anggap "Gaul", padahal jika kita pikir itu adalah sebuah hal yang kampungan karena tidak menghargai siapa yang membaca tulisan itu, apalagi sudah benar-benar merubah kata-kata yang sudah di tuliskan di "Kamus Besar Bahasa Indonesia".


Ciri-ciri orang ALAY:



1. sok narsis dalam segala hal ( kalo foto biasanya mulutnya di gembungin/di monyongin, mukanya kadang di kerutin ) dll.



2. tongkrongannya di pinggir pinggir jalan (yang cewek godain cowok,yang cowok godain cewe yang lagi lewat, dan kalo ada hal yg menarik langsung di sorakin) intinya kampungan



3. kalo lagi ngumpul bawa handshet buat dengerin lagu lewat handphone(suka pamer ga jelas & sok asik gitu deh). Trus sok telpon-telponan dan SMS-SMS an.. kondisi terparah,, biasanya suka nunjukin SMS dari ce/co ke temenya,, biar dibilang kl ce/co nya perhatian ama dia..



4. sok EMO/PUNK/(yg laen) tapi ditanya sejarahnya emo ga tau.



5. sok pengen 'gaul' mau ngikutin tren yang sekarang tapi terlalu LEBAY (cth: nge-mix baju ga kira kira ; baju ijo,celana kotak kotak,sepatu merah,kacamata biru!)



6. dimana mana SELALU ada acara yg namanya 'putu putu narziz'.entah itu di track sepeda,WC,mobil,kamar,stasiun ,angkot,dll. Bahkan foto2nya di edit sampe muka yang aslinya item, di blur(di putih2in) sampe kayak kuntilanak.



7. fotonya ga nahan smua! (dengan gaya di imut imutin,dideketin lampu biar 'terang bgt',foto deket bgt dari wajah *biar jeleknya ga keliatan*,foto dari atas *biar kelihatan keren kali ya*,dll..pokoknya yang bisa bikin ENEG semua orang)



8. SIBLING di Facebook bisa 50 orang lebih, padahal saudara aja bukan



9. buat cowok..tiap hari kerjaannya cari musuh(ribut) mulu sama temen temen cowoknya yg lain *biar dianggep keren gituw*



10. Nama di Facebook Panjaaaang banget, Contoh: Namakupanjangbanget Biarkeliatangaul Bangetdehhaha, atau biasanya namanya di kasih strip: -Namaku Alay Banget Ya-



Tulisan orang alay:
- iya : ia
- kamu: kamuh,kammo,kamoh,kamuwh,kamyu,qamu,etc
- aku : akyu,aq,akko,akkoh,aquwh,etc
- maaf: mu'uph,muphs,maav,etc
- sorry: cowyie,cory,tory(?),etc
- add : ett,etths,aad,edd,etc
- for : vo,fur(zz),pols,etc
- lagi : agi,agy
- makan: mums,mu'umhs,etc
- lucu : lutchuw,uchul,luthu,etc
- siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva,etc
- apa : uppu,apva,aps,etc
- narsis: narciezt,narciest,etc
- tulisannya gede kecil dan pake angka (idihh)
&&& masih bnyak lagi!



12. suka ngirim bulbo ga jelas di YM, FS atau FB :"akko onlenndh dcnniih" ato "ayokk perang cummendh cmma saiia" etc (paling parah lagi kalo ngirim bulbo dengan judul "********" tapi isinya kosong!) ih kampret bner deh tu orang orang alay.



13. menganggap dirinya eksis di Facebook atau Mulktiply (kalo comments banyak itu berarti anak gaul jadi lomba banyak-banyakan comment) *please deh ga bgt! emang kenapa coba kalo commentnya banyak? dapet rekor muri ya? ga penting bgt deh..




14. facebook dipenuhi glitter-glitter norak yang pastinya bisa ngerusak retina mata zz



15. nama facebook mengagung - agungkan diri sendiri,seperti : pRinceSs cuTez,sHa luccU,tIkka cAntieqq,etc. (pede bgt sih?)



16. kata /singkatan selalu diakhiri huruf z/s (cth : nama adalah talitra,dbuat jadi : talz. nama adalah niken,dibuat jadi qens..dsb!)



17. foto di facebook bisa nyampe 300 lebih padahal cuman foto DIRINYA SENDIRI



18. diam diam mengidolakan : kangen band,st12,radja,ato bahkan GARNET BAND



19. suka menghina orang lain yang ga sama kaya dia.



20. suka rusuh di stiap ada konser band, sampe2 bikin CLUB untuk membenci suatu band yang dia lihat, contoh : APWG = ANTI PEE WEE GASKINS



21. buat cewek tiap hari kerjaannya ngomongin ttg cowooooooooo mulu! (cth: eh tau ga si A tadi gini loh sama gue hahaha lucu bgt ya? *ga lucu!)(yah pokoknya sok pamer gitu deh*berasa cantik)



22. Sok2an bisa bahasa inggris, dari wall, profil, semuanya bahasa inggris.



Terms
emo = emosi
Putu putu narziz = photo photo narsis..
lebay = suka melebih lebihkan
ALAY = sebutan / bhs gaul ABC yg termasuk di 22++ katagori tsb
ABC = Anak Bau Chiki (komunitas ini biasa nya peralihan menuju ABG

foto-foto alay...



silahkan menyaksikan.!!!!